( MENJAWAB SYIAH )
Kepada Saudara/i, Kerabat dan Sahabat
Di
Tempat
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Semoga rahmat dan hidayah Allah tercurah untukmu…
Ini catatan kedua dariku yang kutulis dalam bentuk surat, sebuah jawaban terkhusus buat saudara-saudara Syiah, dari beberapa balasan komentar bloogers, facebookers yang ada dicatatan sebelumnya sengaja kutampung agar kusajikan secara utuh, ia karena semua pandangannya sama, dari beberapa peristiwa yang terdapat pada kitab-kitab sunni,...
Jangan bergeming dari membacanya jika saudara-saudariku ingin tahu kebenarannya, insya Allah semoga bisa menjadi muhasabah.
Sedikit dari saya untuk membongkar makar dan kebohongan JR dkk. Salah satu metode cara penulisan mereka untuk melaknat bunda Aisyah ra adalah dengan cara membangun terlebih dahulu analogika ‘rasio bebas’ (bukan rasio experience) yang dianut oleh sebagian para filosofi yunani klasik. Mereka kemudian menyajikan data-data yang tersedia untuk memperkuat hipotesa kedengkian dan prasangka mereka.
Kebencian mereka yang ghuluw terhadap bunda Aisyah ra bertemu dengan logika sunni yang awwam karena tidak memiliki kitab-kitab hadist dan sejarahnya sendiri, akhirnya saudara-saudariku yang dahulu bukan syiah itu mengangguk-ngangguk saja,kemudian menerimanya dengan baik lalu bergabung tanpa meneliti, mengecek kebenaran dan memahami peristiwa itu secara utuh.
Salah satu contoh Analogika tulisan mereka yang saya temui, dimulai seperti ini (yang saya garis tebal);
“Ambillah contoh seorang mukmin. Secara alamiah, ibu orang itu tentu menjadi ibu orang mukmin. Apakah julukan itu secara otomatis berarti bahwa ibu tersebut adalah seorang mukmin yang baik? Tentu saja tidak!!! Menjadi ibu seorang mukmin tidak lantas menjadikan ibu tersebut sebagai seorang mukmin yang baik dan saleh. Argumen yang sama dapat pula diterapkan kepada `ibu-ibu kaum mukmin' (ummahatul mukminin)” dst………..
Naudzubillah, Manusia-manusia ini mengusung dada dan sepertinya sedang memprotes Allah “Tuhan… Engkau telah salah dalam firmanmu”, Aisyah ra tidak pantas menjadi Ummahatul Mukminin dan bukan wanita shaleh..
Itulah yang saya katakan dengan rasio bebas.. perhatikanlah kembali tulisan-tulisan para cendikiawan antum ?? dibangun dengan hipotesis melalui rasio bebas tanpa sandaran..Setelah membangun analogika seperti di atas barulah kemudian mereka menggiring pembaca dengan menyajikan riwayat2 dalam kitab-kitab hadist dan sejarah yang hanya berisi peringai Bunda Aisyah ra yang membuat Nabi marah dan Sedih saja, SEKALI LAGI!!!, HANYA YANG MEMBUAT NABI MARAH DAN SEDIH SAJA!!!, lalu untuk memperkuatnya lagi mereka akan menambahkannya dengan Nash-Nash Al-Qur’an yang sepotong-sepotong : contoh untuk mendeskritkan Aisyah ra dengan menggunakan “(QS : At Tahrim ayat 3,4,5 saja yang diambil dan meninggalkan ayat 1,2 dan 6) lantas sunni yang sebelumnya tidak pernah membuka kitab-kitabnya akan berkata “kok begini ya.. perilaku Aisyah ra ??, sangat tidak pantas menjadi ummahatul mukminin!!” ini dikarenakan mungkin dirimu tidak memiliki kitab-kitabnya, lalu tidak bertanya kepada para cendikiawan sunni di lingkunganmu, sampai pada dirimu menutup sebelah mata untuk membaca ayat-ayat Allah yang lainnya...bertambah parah lagi dirimu karena lupa dan tak sempat bercermin pada diri sendiri "bahwa manusia itu bisa salah, baik dirimu sendiri maupun Aisyah ra" manusia bukan malaikat.
Jika membenarkan dan mengikuti metode yang diterapkan dalam penulisan-penulisan seperti itu, menggunakan rasio bebas tanpa sandaran alias berasumsi atau berprasangka terlebih dahulu, maka saya pun akan bisa membangun sebuah Argumen bahwa Nabi-Nabi Allah adalah sosok-sosok manusia yang tidak pantas dijadikan TELADAN…, (ya.. Allah saya berlindung dari cara berpikir dan penggunaan akal seperti ini). sebagai bukti argumen saya itu, kemudian saya akan menyajikan data dengan ayat- ayat untuk memperkuatnya seperti ini :
"Lalu
keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari
keadaansemula dan Kami berfirman: "Turunlah kamu!!! sebagian kamu
menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi,
dan kesenanganhidup sampai waktu yang ditentukan.." ( Al Baqarah 2:36) Pembaca akan menilai Nabi Adam dan Hawa sebagai dua sosok yang hina dan dibenci serta dicampakkan oleh Allah swt.
"…..
lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Musa (menyesal)berkata:
"Ini adalah perbuatan syaitan sesungguhnya syaitan itu adalah musuh
yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya)." ( Al Qashash 28: 15)
Ini akan mengantarkan pembaca kepada kesimpulan bahwa Nabi Musa a.s.
adalah seorang bengis, pembunuh, dan berperangai sangat buruk.
"Maka
bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan
janganlah kamu seperti orang yang berada dalam (perut) ikan ketika ia
berdoa sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya)." ( al Qalam 68:
48), Pembaca akan menangkap kesan Nabi Yunus a.s. yang disinggung
sebagai "orang yang berada dalam perut ikan" dalam ayat tersebut sebagai
orang yang tidak layak diteladani, tempramental dan seorang yang
dimurkai oleh Allah swt.
"Sesungguhnya
wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan
Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu". ( Yusuf 12:24) Niscaya akan terbentuk dalam otak kita pikiran-pikiran "ngeres" tentang Nabi Yusuf a.s.
"Tidak
patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan
musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawiyah
sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Maha
Perkasa lagi Maha Bijaksana." ( Al Anfaal 8:67).. Pembaca akan
menangkap kesan Nabi Muhammad saw. sebagai sosok Nabi yang telah
melakukan perbuatan yang tidak patut, senang dunia dan tidak senang
akhirat.
Lalu saya akhiri pendapat saya setelah menyajikan data2 yang tidak utuh itu dengan sebuah pertanyaan kepada pembaca, apakah pantas mereka dikatakan Nabi ???seperti mereka yang mengakhiri tulisan-tulisan di blog blog mereka tentang peringai buruk Aisyah ra “Apakah pantas ia dikatakan ummahatul mukminin” ??? SEPERTI ITULAH METODE YANG MEREKA GUNAKAN.
Pada saat itulah dirimu terjebak pada metode yang disebutkan oleh Ust. Abdul Hayyie Al Kattani yakni "Wailul Lil Mushallin"? Secara literal ia adalah potongan dari surah al Ma'un ayat 4, yang bermakna: "Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat …" lain hal nya jika antum baca ayat-ayat selanjutnya secara utuh tentang data-data yang saya sajikan di atas…(silahkan buka Al-Qur’an) maka tentu cara berpikir kita tentang apa yang kutulis TENTANG NABI itu adalah salah. Pun demikian jika dirimu ingin membaca riwayat-riwayat hadist dan sejarah tidak secara utuh, bil khusus Aisyah ra.
Kita tidak membacanya secara integral, sebabnya, lanjutannya, dimanakah peristiwanya, kapan dan bagaimana ?
rasanya saya tidak perlu menyebutkan puluhan keutamaan Aisyah ra yang datang dari beberapa mata rantai hadist, karena mungkin dirimu sudah kadung terjebak pula dengan salah satu doktrin mereka bahwa hadist-hadist tentang keutamaan Aisyah ra adalah palsu, hasil tangan pemerintahan Muawiyah.
Cukuplah saya akan menjawab dengan hadist yang anda permasalahkan dan menganggap buruk Aisyah ra.
salah satunya adalah ini :
“Lantas rasa cemburuku timbul. Maka aku katakan kepada beliau : Apa yang membuatmu teringat pada seorang wanita Quraisy (Khadijah ra) yang sudah nenek-nenek dan sudah ompong yang telah meninggal untuk selamanya?Dst……..mereka membangun pemahaman kepada pembaca bahwa Aisyah begitu membenci bunda Khadijah ra.
Saya jawab dengan bentuk pertanyaan diteruskan dengan jawabannya :
Pernakah Aisyah melihat bunda Khadijah ra sebelumnya ?? jawabannya tidak. Apa motifnya ?? cemburu karena Nabi mengenang Khadijah, Lantas apa yang membuat Aisyah berkata seperti itu?? karena Aisyah melihat bertamunya saudari Khadijah yang memang telah tua dan bergigi ompong lalu mengibaratkannya seperti itu. Kapan Aisyah berlaku seperti itu ?? di saat umurnya yang masih perlu bimbingan Nabi SAW, Bagaimana kisah ini bisa terekam ?? Syiah mengatakan Aisyah mengakui, tapi Imam Muslim dan Bukhari dalam riwayatnya mengatakan Aisyah menceritakan. Kepada siapa dan kapan Aisyah menceritakan ??kepada mereka para tabiin (generasi setelah sahabat) setelah wafatnya Nabi. kenapa Aisyah menceritakan ?? karena mereka bertanya kepada beliau tentang Khadijah ra di sisi Rasulullah dan keutamaannya.
setelah itu Aisyah bercerita : seperti di atas, Nabi marah dan berkata ; tidak ada yang bisa menggantikan khadijah di sisiku dst…
Yang dirimu perhatikan adalah peringai buruknya saja, tanpa melihat kejujuran Aisyah bercerita kepada para tabiin (generasi selanjutnya) bahwa Khadijah sangat utama di sisi Nabi.
Subhanallah…Apakah Aisyah sangat membenci Khadijah ra ??? jauh panggang dari pada Api. Ia tidak mempedulikan perilakunya dahulu yang memiliki sifat cemburu yang berlebihan itu, diceritakannya secara jujur kepada para tabiin untuk menjelaskan sosok Khadijah ra.. amanah dalam ilmu dan Islam, tidak seperti JR dan tokoh2 syiah rafidah lainnya yang mencatok riwayat dan ayat-ayat Allah hanya separuh-separuh untuk memperkuat prasangka dan kedengkiannya.
Mereka bahkan melupakan metode yang paling fundamental dalam pengkajian sejarah…How, When, Where, Why, Who ?
Tahukah antum yang terlupakan lagi ??kemudian Aisyah melengkapinya dengan 1 riwayat lagi dalam shohih Muslim : berkata Aisyah : Rasulullah saw pernah menyampaikan kabar gembira kepada Khadijah binti Khuwailid tentang sebuah rumah di surga. (Shahih Muslim No.4462).
Bagaimana bisa dirimu mempercayai fitnah bahwa Aisyah ra membenci Khadijah ra ????????
Dirimu pun hanya mendengar Nabi Marah, mendengar Abubakar kemudian juga Marah terhadap Aisyah ra, tapi dirimu melupakan banyak hal dan kelanjutan hari2 Nabi bersama Aisyah : Ketika Abu Bakar ra sang Ayah yang menegur sifat kekanak-kanakan Aisyah itu : Nabi lalu berkata kepadanya “biarkanlah wahai Abu Bakar itu adalah sesuai dengan tuntutan fitrahnya”
hal itu karena Aisyah adalah satu2nya istri Nabi yang dinikahinya di masa yang muda, remaja yang lincah, dinamis, gairah cintanya, dan sifat kekanak-kanakannya.
Suatu ketika lagi Abu Bakar mendekati Aisyah dan bermaksud menampar putrinya itu. kemudian Nabi mencegahnya. ” sabar,” kata beliau : ”Maklum saja, wanita yang sedang cemburu itu tidak bisa melihat dasar lembah walau dari atasnya.”
Dirimu pun tidak melihat ketika Nabi sedang begitu marah kepada Aisyah lalu berkata ;“tutup matamu!!!” melihat Aisyah ketakutan, nabi memeluknya seraya berkata “dengan begini redalah marahku”
Dirimu hanya melihat kisah “Nabi sedih dengan parkataan Aisyah” tentang Ibrahim??, “Aku tidak melihat kemiripannya denganmu” tapi tidak melihat Nabi pun selalu merasa iba terhadap keadaan Aisyah yang ingin sekali memiliki anak dari Nabi, sehingga dirimu pun tidak melihat Nabi memulai candanya dengan bertanya kepada Aisyah “Aku Tahu kapan kau Marah dan Kau Bahagia" merasa tersinggung Aisyah bertanya “Apa itu" ? jika sedang marah kau bersumpah “Demi Tuhan Ibrahim”. Namun, jika sedang bahagia kau bersumpah demi Tuhan Muhammad”. terkaan yang jitu oleh Nabi, mendengar itu Aisyah tersipu, tawanya lepas tak tertahan “Demi Allah.., ya Rasul hanya Namamu yang kutinggalkan” akunya polos.
Beliau hanya cemburu karena cinta, karena tak ingin tersaingi.. dan itulah bukti kecintaannya kepada Nabi… “Sesungguhnya Allah itu cemburu dan orang Mu’min itu cemburu. Kecemburuan Allah ialah jika orang mu’min melakukan apa yang diharamkan atas dirinya.” (HR. Bukhari-Muslim)
itulah yang dikatakan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-‘Asqalani ; Asal dari sifat cemburu bukanlah hasil usaha si wanita namun wanita memang diciptakan dengan sifat tersebut.
Beliau hanya cemburu, Bunda Aisyah ra tidaklah melakukan perbuatan-perbuatan dosa besar yang mungkin pernah kita lakukan ; lalai dalam shalat, puasa dan ibadah lainnya serta mungkin dosa2 besar yang kita lakukan, Apa pantas kita menilai beliau seperti apa yang dinilai oleh cendikiawan yang tak berakhlak itu ?
Dengarkanlah lagi sabda Nabi ini :
“Wanita diciptakan dari tulang rusuk lelaki, kalau seandainya kita memaksa untuk meluruskannya, maka akan patah, kalau dibiarkan maka akan tetap bengkok” (HR.Bukhari) Itulah mengapa Nabi menyikapi perilaku Aisyah ra dan istri2 lainnya, dengan berbagai macam sikap, terkadang beliau tersenyum, tertawa, diam, menyendiri, dan marah. Semuanya adalah hikmah bagaimana Nabi menciptakan karakter istri yang shaleh dan mulia dalam rumah tangga yang baraqah.
Karena tidak melihat itu, maka dirimu pun tidak mampu menggali kedalaman hikmah dari bilik-bilik rumah tangga Rasul. Lihatlah..., Nabi memeluk, merangkul lalu mencium mereka ketika beliau begitu marah, kadang diam, kadang menyendiri lalu kembali lagi dengan candaan hanya untuk meredakan marahnya, tidak pernah menggunakan tangan untuk menutup mulut, apalagi untuk memukul.
Mereka yang menganggap Aisyah cacat dan tidak berhasil menjadi istri yang shaleh, tanpa sadar telah meragukan kredibilitas Nabi sebagai seorang suami yang berhasil dalam rumah tangganya… menyakiti Nabi, menulikan telinga atas persaksian Allah ?? sungguh logikamu tidak dapat membantah ketetapan Allah atas diri Aisyah yang menjadi Istri Nabi di Dunia dan Akhirat.
Aisyah ra tumbuh dari masa remaja sampai menjadi perempuan yang cerdas, bijak dan mulia, karena cara didik dan nasehat Nabi yang selalu diucapkan ketika Aisyah melakukan kesalahan “kamu ini istri seorang Rasul yang mempunyai kedudukan Agung di sisi Allah. Jadilah Manusia sempurna, jadilah simbol keagungan dan kegagahan”
Jadilah dia Aisyah radhiallahu 'anha………….. Tokoh wanita mulia Islam, lumbung ilmu para Penanya, Guru para Tabiin, yang dari riwayat-riwayat hadistnya terhimpun dan lahirlah pemahaman kita tentang Fiqih Perempuan”
Salam untukmu duhai Ibu…
Wassalamu’alaikumwarahmatullahi wabarakatuh
Uar Ben Alhamd.... :)