Jumat, 28 Juni 2013

SURATKU BUAT ISTRI NAN AGUNG

(Aisyah RA Binti Abu Bak'r RA)

Kepada,
Kerabat, Sahabat dan Saudara/i ku..
Di
Tempat


Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh….

Salam Cinta dan Ukhuwa.., Semoga Rahmat, Hidayah dan Kasih Sayang Allah selalu tercurah untukmu….
Ini adalah pertama kali diriku menulis catatan dalam bentuk surat untukmu.., untuk diri-dirimu jadikan muhasabah akan fitnah tanduk syaitan dan lidah dajjal yang datang dari dataran yang tinggi, negeri para peratap, negeri pengkultusan dengan revolusinya yang terbungkus konspirasi........

ini adalah sebuah catatan pelampiasan kekecawaanku terhadap salah satu dan beberapa facebookers (SYIAH) yang dengan terang terangan menjudge Ibu kami Ummhatul Mukminin (Aisyah Binti Abu Bakr R.A) dengan sebutan KAFIR dan sengaja mengganti gelar yang sudah disematkan Oleh Allah bagi Beliau Bunda Aisyah r.a dengan Gelar Ummul Mujrimun....Naudzubillah....kekesalan ini bertambah dengan membaca sebuah Note seorang cendikiawan Ulama SYIAH Imamiyah Indonesia seorang pandir Jalaluddin Rahmat yang secara terang-terangan menghina Ummahatul Mukminin..(para Ibu orang Mukmin).. dan di tulisan itu terlewati olehku satu statement  JR dalam catatannya yakni : “Tidaklah menjadikan mereka (istri2 nabi) mulia karena menjadi istri Nabi, tetapi ukuran kemulian adalah taqwa” begitulah kata mereka (JR) untuk membangun persepsi masyarakat awwam dengan menggunakan dalil hanya untuk membungkus prasangka dan kedengkian sekedar menguatkan aqidah mereka yang sesat. Sungguh!!! orang2 yang membangun kebenaran sejati dengan rasio bebas, asumsi dan prasangka sebagai tiang-tiangnya adalah mereka yang di sebutkan dalam Al-Qur’an :

“…Mereka tidak mengikuti kecuali prasangka belaka, dan mereka hanyalah menduga-duga. (QS, 10 ; 66)

Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. (QS.10 ; 36)

bil khusus Aisyah radhiallahu anha salah satu istri nabi yang tak lepas dari cemohan, makian, hinaan dan pelampiasan prasangka mereka hanya untuk sekedar menguatkan aqidah mereka yang jauh dari kebenaran.

Saudaraku.. Mari sejenak mengenal Istri yang dicintai Nabi ini…

Man Hiya Aisyah ra ???

Kulitnya putih, berubah kemerahan saat diterpa sinar mentari. Maka kemudian wanita pemilik kulit putih ini pun dipanggil dengan al-Humairah. Ia adalah Aisyah binti Abu Bakar radiallahu anhu,
al-Humairah…., itulah wahai saudaraku..,Panggilan kesayangan untuk Aisyah yang tak lain keluar dari lisan Al-Amin, suami tercinta Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam. Sang suami dengan sabdanya “Keutamaan Aisyah atas wanita-wanita lain adalah seperti keutamaan tsarid (bubur daging dan roti) atas makanan yang lainnya” (HR. Muslim)

Dialah Aisyah pemilik sikap quwwah (keteguhan jiwa) yang keyakinannya tetap dalam kebenaran, ketika masyarakat mempertanyakan tentang kesuciannya setelah kepulangannya dari Perang Bani Musthaliq. Bahkan, berita bohong itu pun sempat menggoyahkan kepercayaan Rasulullah saw. kepadanya. Aisyah hanya bersaksi :

“Demi Allah, aku tidak bertaubat kepada Allah selamanya dari apa yang Rasul katakan. Demi Allah, sesungguhnya aku tahu jika aku mengakui sesuai dengan apa yang dikatakan orang-orang, sedang Allah tahu bahwa aku bersih dari (perbuatan itu), maka sungguh aku telah mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah terjadi. Dan, jika aku mengingkari apa yang mereka katakan, mereka pasti tidak akan mempercayai dan tidak akan membenarkanku. Tetapi, aku akan mengatakan apa yang pernah dikatakan oleh Ya’kub a.s., ‘Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku), dan Allah sajalah yang dimohon pertolongannya terhadap apa yang kalian ceritakan.’ (Q.S. Yusuf, 12: 18).” Dengan kesabaran yang tinggi pada diri Aisyah, Allah Swt. membenarkan kesucian Aisyah sebagai wanita mulia.

Allah telah menurunkan ayat Al-Qur’an yang berhubungan dengan pembebasan dirinya dari tuduhan dusta sebanyak sepuluh ayat dalam surat An-Nuur, dimana didalamnya Allah menjelaskan bahwa laki-laki yang baik adalah untuk wanita yang baik, dan beliau tergolong wanita yang baik, membebaskan mereka dari tuduhan orang-orang yang menyebarkan tuduhan dusta itu, dan memberi kabar gembira bahwa bagi mereka surga.

Istri yang dicintai Rasul, yang dipanggil dengan nama kesayangan dan mengabarkan kepadanya berita yang membuat jiwa serasa melayang ; “Wahai ‘Aisy.., Malaikat Jibril shallallahu ‘alaihi wasallam tadi menyampaikan salam buatmu.” (Muttafaq ‘alaih). Sungguh ujian Allah atas kesuciannmu wahai ibu kami tidak berhenti hingga saat ini. Masih saja ada golongan yang meragukan kredibilitas dan kemulianmu..

“Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman, mereka kena la'nat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar. Pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan” (QS.24 ; 23-24)

“Engkau adalah isteri yang paling dicintai Rasulullah saw., dan beliau tidak akan mencintai sesuatu kecuali yang baik,” ujar Ibnu Abbas kepada Aisyah. Di waktu lain ia pun mengatakan, “Allah Swt telah menurunkan wahyu tentang kesucianmu dari atas lapis langit yang ketujuh, maka tidak ada satu masjid pun yang disebutkan nama Allah di dalamnya, kecuali kesucianmu akan dibacakan di dalamnya sepanjang malam dan siang.” Iman Az Zuhri berkata, “Seandainya ilmu Aisyah dikumpulkan dengan ilmu dari seluruh Ummahatul Mukminin, dan ilmu seluruh wanita, niscaya ilmu Aisyah lebih utama.”


Pada suatu ketika aku (Aisyah) ikut bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah lawatan. Pada waktu itu aku masih seorang gadis yang ramping. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan rombongan agar bergerak terlebih dahulu. Mereka pun berangkat mendahului kami. Kemudian beliau berkata kepadaku: “Kemarilah! sekarang kita berlomba lari.” Aku pun meladeninya dan akhirnya aku dapat mengungguli beliau. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam hanya diam saja atas keunggulanku tadi. Hingga pada kesempatan lain, ketika aku sudah agak gemuk, aku ikut bersama beliau dalam sebuah lawatan. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan rombongan agar bergerak terlebih dahulu. Kemudian beliau menantangku berlomba kembali. Dan akhirnya beliau dapat mengungguliku. Beliau tertawa seraya berkata: “Inilah penebus kekalahan yang lalu!” (HR. Ahmad)

Aduhai…, Sungguh romantika percintaan yang tiada tertandingi, tidakkah kalian menyaksikan dua insan yang terikat cinta berlari di gurun pasir dengan harmoni cinta, kasih sayang, dan rahmat itu !!!, permainan yang sangat lembut dan sebuah perhatian yang sangat besar dari seorang pemimpin yang besar pula. Adakah di dunia sekarang ini engkau lihat pemimpin2 negeri ini melakukan hal yang sama di tengah kunjungan2 mereka ??
Beliau perintahkan rombongan untuk berangkat terlebih dahulu agar beliau dapat menghibur hati sang istri dengan mengajaknya berlomba lari. Kemudian beliau memadukan permainan yang lalu dengan yang baru, kemudian berkata: “Inilah penebus kekalahan yang lalu!” (Subhanallah.. sungguh mulia dirimu wahai Nabi, suri teladan yang mencintai istri2nya..)

Selama sakit menjelang wafat, Nabi SAW kerap berada di rumah Aisyah. meminta izin istri lainnya untuk berada di dekat Aisyah.”Sebuah kenikmatan bagiku karena Rasulullah wafat di pangkuanku,” kata Aisyah. Saat detik2 perpisahan itu berakhir.., tetesan cinta menyayat sebelum sakaratul maut menjemput sang kekasih, Allah menyempatkan keduanya berbagi siwak.., haru membiru di bilik rumah tangga yang penuh rahmat itu, sehingga dikatakan oleh Aisyah “liurku bercampur dengan liur Rasulullah SAW”

Ahhhh.. saya begitu mengerti sekarang.., mengapa ending kisah sejarah yang begitu indah ini tidak begitu disukai oleh Kaum Syiah orientalis bahkan oleh mereka yang berwajah oriental…,??? Heheh.., apa mungkin iri, atau dengki atas kedudukan dan kemulian Aisyah Radhiallahu Anha ???. Yaa Allah…, Maha Suci Engkau yang menetapkan pada kekasihmu Muhammad hidup bersama wanita-wanita mulia nan agung.

Demikian suratku ini untukmu saudaraku bahwa Kehidupan setiap manusia bisa dikatakan sebagai kumpulan keping yang membentuk sebuah mozaik. Dan mozaik kehidupan Aisyah adalah termasuk mozaik terindah yang pernah ada. Kenapa? Karena mozaiknya beririsan dengan mozaik kehidupan manusia agung yang menjadi teladan manusia sepanjang masa yaitu Rasulullah saw.
semoga engkau mampu menepis fitnah, menghargai dirimu sendiri sebagai pribadi2 yang mendambakan jiwa mukmin…, lawan dan usirlah!!! fitnah itu dari orang2 yang engkau sayangi, karena sungguh kelezatan iman dan islam itu tidak akan pernah kita dapati di majelis2 yang juga di dalamnya berisi celaan, hinaan, cacian, bid’ah, makian, prasangka buruk dan kedengkian…

“Dan Kami berikan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata tentang urusan (agama); maka mereka tidak berselisih melainkan sesudah datang kepada mereka pengetahuan karena kedengkian yang ada di antara mereka.”.(QS. 45 ; 17)
Maha Benar Allah dengan segala FirmanNya…

Aisyah meninggal pada bulan Ramadhan yang agung tepat pada tanggal 17 Ramadhan, pada usia 66 tahun. Dan, dimakamkan di Al-Baqi’ kawasan pemakaman yang terletak di kota Madinah. Hal ini sesuai dengan wasiatnya, dimana beliau berwasiat agar dimakamkan di tempat pemakaman istri-istri Rasulullah. Semoga Allah meridhainya.
Surgaku di telapak Kakimu Bunda....orang-orang yang durhaka kepadamu sama sekali tidak akan mencium aroma surga yang Allah janjikan.......!!
Salam untukmu ya Rasul, Keluargamu (istri2mu dan dzuriatmu) serta para sahabat yang selalu setia mendampingi perjuanganmu..

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..

Uar Ben Alhamd.....:)
Bersambung...

Jumat, 21 Juni 2013

JALAN CAHAYA

BENDERA ISLAM

Wada’an … selamat tinggal dunia kelam, selamat tinggal belenggu muram, selamat tinggal wajah jahiliyah…


Mereka adalah orang-orang yang sangat beruntung di muka bumi ini. Karena mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk dan hidayah dari-Nya, Sang Maha Cinta. Cahaya Di Atas Cahaya. mereka yang semula hidup dalam kegelapan duniawi, telah mendapatkan kesempatan kedua, untuk menjalani hidup baru. Hidup menelusuri jalan cahaya, jalan-Nya yang lurus. Semoga Cinta mereka pada-Nya takkan pernah berkesudahan.


Marhaban… selamat datang wajah iman… ‘alaikum salam yaa akhi yaa ukhti…

ISLAM, ia datang dengan 2 pesona; pesona kebenaran yang abadi dan pesona manusia muslim yang temporal. Dan pada setiap momentum sejarah dimana kedua pesona itu bertemu, Islam selalu berada di puncak kekuatan dan kejayaannya. Ia tidak akan pernah kehilangan pesona kebenarannya, karena kebenarannya bersifat abadi. Dan pesona kebenaran seorang muslim harus ditunjukkan, sehingga ia mampu mengawal pesona kebenaran yang abadi..


Seluruh Alam Telah Menjadi Saksi !!!

Alhamdulillah..Segala puji bagiMu ya Allah, di bulan suci dimana Al Qur-an diturunkan sebagai peringatan kepada manusia, serta petunjuk dan penerang bagi orang-orang yang beriman..

Kamis, 28 April 2013

Min Huna Nabda,,, dari sini MAHIGAN memulainya, menjadi sebuah pengalaman berharga bagiku, disaat belum terbiasa dengan perjalanan darat yg konon -/+ 22 jam jarak yang harus kami tempuh, di kejauhan hari sudah terbayang lelahnya menempuh jarak, bosan sudah pasti, dalam hati hanya berbisik malu, semoga beta tak mabuk darat saat pahit menelan ludah akibat noktah , terlepas dari galau galaunya para Ababil :) heheh..namun pada akhirnya realitasnya tak seperti apa yg dibayangkan...Alhamdulillah.. :D
............................Napak tilas 13 tahun silam di sebuah perkampungan, tiga dusun yang terletak di kabupaten Seram Timur kepulauan Jazirah Almulk, mereka telah bersaksi dengan kesaksiannya yang tegak di atas kebenaran “Asyhadu Alaailaaha Illalllah Wa Asyhadu Anna Muhammadarrasulullah…”

AKU BERSAKSI BAHWA TIADA TUHAN SELAIN ALLAH DAN AKU BERSAKSI BAHWA MUHAMMAD ADALAH RASUL ALLAH…

“Allah telah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang kukuh itu di kehidupan dunia dan akhirat…” (Ibrahim 27)

Ikrar itu telah siap menghadapi segala konsekwensi ujian Allah berupa harta, keluarga dan kampung halaman untuk memperoleh gelar “MUSLIM”, sebuah gelar Agung yang sejak semula disandang oleh para guru peradaban cahaya.. ‘hanifan muslimin wa maa ana minal musyrikin’

Allahu Akbar... Allahu Akbar... Allahu Akbar
suara takbir seketika bergemuruh
senyum ibadah terlihat dari sudut-sudut Masjid..
air mata bahagia jatuh di kedalaman hati …
Pelukan cinta islam dan ciuman persaudaraan pun bersambut..
Salam Alaikum yaa Akhi yaa Ukhty..,
Seluruh Alam telah menjadi saksi atas ikrarmu,
perhatikanlah keajaiban dari dua kalimat syahadat itu,
Saksikan pesona kebenaran cahaya di atas Cahaya...
Doa dan cinta kami menyertaimu…
Semoga engkau menjadi muslim yang tangguh. Aamiin...


 

"...Kamilah penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah, dan saksikanlah, bahwa kami adalah MUSLIM ! "
(QS. Ali `Imran 52)






Uar Ben Alhamd....
 

Rabu, 15 Mei 2013

GRAMATIKAL MA'HAD

I M M I M


Ada satuan bahasa yang selalu melekat hingga saat ini, kalimat itu adalah sebuah sambutan yang tidak lazim. Tidak tertulis di spanduk atau juga di papan sekolah.., ia tidak diukir dengan batu, tidak juga dengan kerang dan tidak dengan hiasan lampu, pesan itu hanya tertulis dengan tinta sablon di seprei ranjang berwarna hijau yang sama untuk semua calon santri :

“TABAH DAN SABARLAH AGAR KAMU SUKSES”

hihi.., seram!!!  sebuah  ultimatum ; bahwa saya dan teman2 sedang memasuki sebuah bilik besar yang penuh andrenalin.., ditampeleng, dicubit, digebukin senior, dikerjain, di apa2kan saja pokoknya wajib hukumnya menerima dengan lapang dada. Edukasi ala militer…, hehe..  :D

Kenapa tulisan itu di seprei kasur ya.. ????
hmmm, rupanya dunia baru itu sedang mengajarkan balagho' yang tersirat, baik dan halus. Adrenalin itu tidak memacu jantung saat mata kita sedang menganga saja, tapi saat mata terpejam di ranjang pun  perasaan was-was itu ada. Sosok lelaki bertubuh besar, sangar, hitam (man hadza ???) yang ketukan langkah kakinya menembus alam mimpi. Berdirilah ia di depan pintu asrama, dan dimulailah hitungan bersejarah itu dengan suara yang pelan namun lebih menggelegar dari Guntur dan halilintar.: ‘Asshalatu khairumminannaum..!!!, hatta tsalatsa : 1….. 2…. 3…., Biuayarrrrrrrrrr…. Seperti gempa bumi 9,4 Skala Richter…, berlompatlah kami dari ranjang seperti pengungsi, dan dalam 5 menit saja sumur kibar ramai dengan wajah2 yang melas..
Ketika suasana itu hening…,  tiba-tiba.. ramai tawa pecah di mulut sumur yang tertuju pada salah satu di antara kami yang tanpa sadar hanya menggunakan kolor  (saking takutnya hingga tak sempat ngambil sarung. wkwkwkwk :D:lol::P

Malam hari menjadi penantian istirahat  yang tak ramah. setelah selesai isya, detakan jantung semakin cepat, cemas, gelisah dan takut.., diumumkanlah daftar pelaku tindak pidana ala ma’had, jika masih cinta dengan bahasa daerah dan kenakalan lainnya, maka bersiaplah untuk dieksekusi di kursi panas mahkamahtillugah pengadilan senior… :(

Oupsss.., ada yang tertinggal, sentilan ba’da dzuhur “hamsodakait ilal matbah” menciptakan antrian panjang di gerbang matbah (dapur), dan kami pun berbaris menerima lipatan sajadah yang diputar hingga mengeras. Kodooong (belas kasian).. sampe lemari menjadi tempat persembunyian yang sementara aman ketika senior mengontrol asrama saat waktu makan tiba. Terima kasih lemariku … :lol:

Bicara lemari, ana jadi ingat shohib 962 yang paling rapi di antara kami.., Alhamdulillah ukhuwa ini masih terjalin lewat pembicaraan dengannya 3 hari yang lalu via telephon celuler setelah kurang lebih 9 Tahun tak bersua. Asli.. selama umur pergaulanku tidak pernah kutemui orang paling rapi sepertinya. Seketika saja diriku seperti  terkena  jenis penyakit  mental Stockholm  syndrome (aku menjadi Gila), harus tertawa keras dan lama sampai  kehilangan kontrol karena bercerita ria dan mengenang memori itu.., haha..:lol:

Memang, tidak semua di antara kami sanggup bertahan mereguk getirnya kehidupan ma’had, pahit, duka, dan tangisnya. Dibutuhkan kesabaran dan ketabahan yang super ekstra. Namun,  tetaplah kami keluar membawa nilai-nilai religus, ukhuwa, cinta dan solidaritas hingga batas kehidupan dunia yang berakhir dengan kematian (insya Allah). semoga pula kami tetap dipersaudarakan oleh Allah di kehidupan yang terakhir. Dan semoga pula para akhwat bidadari2 kerudung pujaan kami dulu itu kelak adalah bidadari surga bagi para suaminya, Aamiin…

Mmm, semangat 45 ketika di ajak jalan-jalan ke Ma’had Putri, salah satu dari kami harus ngaca berulang kali dengan tata rambut yang dibelah tengah ditambah kilatan minyak rambut (apalagi nama judulnya itu minyak rambut yang dijual pak Imran ??? lupa ka), ampunnnnn.., sudah gagah ma tidak shohibong ?? pertanyaan yang sama dan selalu berulang-ulang. hiiihiii..

Hakikatan, wallahi, hamsadakait, hattassalatsa, yaskutu haiba dan masih banyak lagi kata-kata dari satuan gramatikal bahasa ma’had yang masih terekam dan tak pernah hilang…

Saya mau akhiri catatan iseng ini..,  dengan satu pepatah Arab di lembaran pertama buku balagah kami, buat saudara-saudariku yang sedang hijrah bekerja untuk mengejar cita-cita : ‘man jadda wa jadaa’ (siapa yang bersungguh-sungguh maka dapatlah ia). Maka  jadikan ‘kesungguhan’ itu untuk memulai setiap lembaran pertama dalam bekerja, kemudian selimutilah setiap usahamu  dengan pesan seprei kita itu ; TABAH DAN SABARLAH AGAR KAMU SUKSES… :)




Ma’hadku Almamaterku.. lumbung ilmu yang menanam cinta..
Alaikum salam, Baraqumullahu  fikh jami’an…., 

Min Huna Uhibbukum Daaiman…

Kamis, 25 April 2013

GAMELLAGGIO

CERITA PERSAUDARAAN SAMPAI MATI LAZIALE_INTERISTI

KEMBAR ABADI :)

Sebuah Catatan Panjang Sejarah dan Kejadian Dramatis..bagus di baca buat para laziale dan interisti..


Stadio Giuseppe Meazza, San Siro, Milano, 23 April 2011. Menjelang laga Inter vs Lazio di pekan-pekan terakhir yang krusial di Serie A musim 2011/2012. Lazio sedang bersaing keras dengan Udinese untuk mengamankan tempat di UCL dan Inter sedang berjuang keras menghidupkan asa scudetto yang hampir pasti diraih AC Milan. Ketika kedua tim memasuki lapangan, dari salah satu bagian stadion puluhan flare warna biru langit dinyalakan, disusul pekikan ribuan orang: “A Roma Ce Solo Lazio” atau “Di Kota Roma Hanya Ada Lazio”. Kita yang hanya menyaksikan lewat televisi tentu mengira itu adalah ulah suporter Lazio. Sebenarnya bukan, flare dan teriakan itu justru dilakukan dari Curva Nord Stadio GM oleh puluhan ribu Interisti yang tergabung dalam Boys SAN dan beberapa kelompok ultras Inter lainnya. Baru setelah itu dari sisi Irriducibili Lazio dinyalakan flare warna biru gelap (warna Inter) dan para Laziali meneriakkan “Forza Inter Ale”. Itu adalah ritual selamat datang dari Interisti untuk Laziali dan tanda persahabatan Laziali bagi Interisti. Ritual itu sudah berusia lebih dari satu dekade sejak kedua kelompok suporter ultras menjalin gamellaggio (twinning, persaudaraan). Di Stadio Olimpico, ritual dilakukan sebaliknya. Irriducibili Lazio menyalakan flare biru gelap disertai teriakan “Forza Inter Ale” dan dibalas oleh Interisti dengan flare biru langit dan teriakan “A Roma Ce Solo Lazio.”


Mengapa kita bersahabat dengan Lazio? Karena sama-sama menempati Curva Nord? Dan mengapa Lazio berseteru dengan AS Roma? Karena menghuni kota yang sama? Itu memang salah satu alasan tetapi latar belakang sesungguhnya adalah sebuah sejarah panjang dan kompleks, dimulai bahkan dari saat awal eksistensi kedua klub itu.


Takdir Mulai Saat Kelahiran


SS Lazio dibentuk tahun 1900 oleh para politisi dan usahawan berhaluan politik kanan dan anti-Yahudi serta berbasis pendukung kaum terpelajar dan kalangan menengah-atas Roma. Kelompok berhaluan serupa juga lah yang mendirikan Inter saat melepaskan diri dari AC Milan tahun 1908.

Saat diktator fasis Benito Mussolini berkuasa di Italia, dia memerintahkan semua klub di kota Roma di-merger menjadi AS Roma tahun 1927. Semua mematuhi, kecuali SS Lazio yang menentang dan tetap berdiri sendiri. AS Roma dikuasai oleh golongan kiri dan didukung oleh kelas buruh dan masyarakat Yahudi (kelompok serupa yang mendukung AC Milan). Di kota Milan, Mussolini melakukan hal yang sama, dan Inter melakukan penentangan yang sama sehingga sementara harus berganti nama menjadi Ambrosiana Milano. Sejarah awal ini telah menyemai ikatan antara SS Lazio dan Inter serta menempatkan AS Roma dan AC Milan pada pihak yang berseberangan. Lokasi yang sama di Curva Nord (Lazio dan Inter) dan di Curva Sud (AS Roma dan AC Milan) makin mempertajam perbedaan ini. Dan, tentu saja, faktor lokasi di Kota yang sama menjadikan persaingan Lazio-Roma menjadi semakin memanas. Lazio dan pendukungnya merasa sebagai yang pertama di Roma, sedangkan AS Roma menganggap dirinya satu-satunya klub yang menyandang nama kota.

Persaingan ini sedemikian panasnya, sehingga Derby della Capitale (SS Lazio vs AS Roma) dinobatkan sebagai derbi paling panas di Italia bahkan di Eropa, melebihi Derby della Madoninna (Inter vs Milan), Derby Manchester (MU vs Manchester City) bahkan mengungguli El Classico (Barcelona vs Madrid). Kalau Interisti dan Milanisti hanya panas di dunia maya tetapi bersahabat di dunia nyata, Laziali dan Romanisti berseteru dalam arti sebenarnya, di dunia maya maupun di dunia nyata. Hampir tak pernah terjadi Derby della Capitale tanpa kerusuhan. Tercatat beberapa nyawa melayang dan ratusan orang telah terluka karena derbi ini. Derby della Capitale adalah “neraka” sepakbola Italia.


Gamellaggio Lazio-Inter


Persaudaraan ini terjadi sepanjang sejarah. Tak pernah ada catatan insiden antara Laziali dan Interisti. Kesamaan aliran politik dan basis pendukung membuat kedua kelompok suporter ini selalu rukun. Gamellaggio secara formal terjadi saat kedua suporter bertemu dalam final UEFA Cup tahun 1998 di Paris yang dimenangkan Inter dengan 3-0. Sikap ksatria Irriducibili Lazio dan sikap simpatik Boys SAN Inter membuat kedua suporter mendapatkan penghargaan fair play dari UEFA. Dan saat itu tercapailah kesepakatan persaudaraan antara Laziali dan Interisti yang makin menguat hingga hari ini.


Inilah beberapa kejadian unik yang menunjukkan eratnya gamellagio Lazio-Inter:


Nasib Tragis Zaccheroni, 5 Mei 2002


Pada pertandingan giornata 34 musim 2001/2002 tanggal (match terakhir, karena saat itu Serie A hanya berisi 18 tim), terjadi peristiwa yang unik di Stadio Olimpico pada laga Lazio vs Inter. Saat itu Inter di ambang juara karena cukup dengan mengalahkan Lazio maka mereka akan meraih scudetto mengungguli Juventus. Maka Laziali di Stadio Olimpico, dimotori Irriducubili Lazio mendukung Inter habis-habisan dan meminta Lazio kalah, agar yang mendapatkan scudetto Inter, rival Lazio: Juventus. Sayangnya malam itu para punggawa Nerazzurri gagal meraih scudetto yang sudah di depan mata, kalah 2-4 dari Biancoceleste. Dan Juventus merebut scudetto dengan 71 poin, diikuti Roma dengan 70 poin. Inter sendiri di posisi ketiga dengan 69 poin. Akibat kejadian ini, Irriducibili Lazio mendemo manajemen Lazio dan meminta allenatore Lazio, Alberto Zaccheroni dipecat. Zaccheroni pun akhirnya mengundurkan diri. Dia dimusuhi Laziali justru karena timnya memenangkan laga. Ironis, tapi itulah jiwa Irriducibili Lazio: persahabatan dan solidaritas ditempatkan di atas sepak bola itu sendiri.


Stadio Giuseppe Meazza Tanpa Banner dan Flare, 15 November 2007


Empat hari sebelumnya, seorang DJ terkenal di kota Roma, Gabriele Sandri, seorang pendukung ultras Lazio, menjadi korban tak berdosa dalam kerusuhan antara sekelompok suporter anarkis Juventus dan kepolisian kota Roma. Sandri tertembak di bagian belakang kepalanya oleh polisi. Kerusuhan pun meledak, menuntut keadilan. Tidak hanya karena para Laziali menyerang kantor polisi Roma, tapi juga di Milano, oleh Interisti menyerang kantor polisi Milano, menunjukkan solidaritasnya. Untuk menghormati Sandri, Inter menunda sehari pertandingan Inter vs Lazio di Stadio Giuseppe Meazza yang seharusnya digelar 14 November. Saat pertandingan berlangsung, Boys SAN Inter memprakarsai mengheningkan cipta selama 5 menit di stadion untuk menghormati Sandri. Dan malam itu, di Curva Nord Giuseppe Meazza, tempat para Interisti, sama sekali tidak terlihat sepotong pun spanduk, banner ataupun sebuah flare pun yang mereka nyalakan. Kelompok-kelompok ultras Inter hanya membentangkan sebuah spanduk besar dengan tulisan warna biru langit berlatar belakang biru gelap bertuliskan: “Gabriele Sandri, Kau Akan Selalu Berada di Hati Kami”.


Korban Berikutnya, Jersey No 12 SS Lazio, Minggu, 2 Mei 2010


Stadio Olimpico Roma dipenuhi pendukung Lazio dan Inter yang menantikan pertandingan Serie A giornata 36 musim 2009/2010. Pertandingan ini sangat menentukan bagi kedua tim. Bagi inter, memenangi pertandingan ini akan mempermudah meraih Scudetto, dan akan mengambil alih poisisi cappolista dari AS Roma yang sementara unggul 1 poin. Bagi Lazio memenangi pertandingan ini akan lebih mengamankan diri dari kemungkinan degradasi ke Serie B, karena saat itu Lazio berada di posisi 17 dan hanya terpaut 4 poin dari zona merah.

Ritual gamellagio seperti pada pembuka tulisan ini pun dilakukan. Itu hal biasa. Yang luar biasa adalah banyak bendera Inter dan spanduk-spanduk pemberi semangat bagi Inter dikibarkan oleh Irriducibili Lazio. Yang paling mencengangkan tentu saja sebuah spanduk para Laziali yang ditujukkan kepada para pemain Lazio sendiri: "Kalau sampai menit ke 80 Lazio unggul, kami akan masuk ke lapangan!" Spanduk ini disita polisi tak lama kemudian tetapi muncul spanduk-spanduk lain yang tak kalah mengerikan: "Nando (maksudnya Fernando Muslera), biarkan bola melewatimu, dan kami akan tetap menyayangimu." "Zarate, satu gol saja kau cetak, kami paketkan kau ke Buenos Aires." Rupa-rupanya para pendukung Lazio ingin agar Inter mengalahkan timnya malam itu, untuk melicinkan jalan Inter menuju scudetto. Mereka lebih memilih risiko Lazio turun ke Serie B daripada Roma yang memperoleh scudetto.


Suasana pertandingan pun menjadi sangat aneh. Lazio sama sekali tidak memperoleh dukungan fans-nya sendiri walaupun bermain di Olimpico. Sebaliknya Inter sebagai tamu justru memperoleh dukungan luar biasa. Setiap kali pemain Inter menguasai bola, para Laziali berteriak, "Biarkan mereka lewat!" Malam itu portiere Lazio, Fernando Muslera, bermain sangat gemilang. Tak kurang dari 10 penyelamatan luar biasa dilakukannya. Tiap kali Muslera menggagalkan gol Inter, teriakan cemoohan pun berkumandang ke arahnya. Akhirnya pada injury time babak pertama, tandukan Walter Samuel mengubah skor menjadi 0-1. Stadion bergelegar dan muncul spanduk ejekan dari Laziali bertuliskan, "Oh, Noooo Roma!" dan, "Scudetto Game Over, Roma!"


Di babak kedua mental pemain Lazio (kecuali Muslera yang tetap bermain gemilang) pun runtuh. Kesalahan demi kesalahan dilakukan dan membuat Thiago Motta menggenapkan kemenangan Inter menjadi 0-2 di menit ke 70. Di akhir pertandingan, para pemain Lazio meninggalkan pertandingan dengan sedih dan marah karena merasa “dihianati” Laziali. Presiden Roma, Rosella Sensi mengecam habis-habisan ulah Laziali tersebut. Jose Mourinho hanya berkomentar pendek, "Saya belum pernah menyaksikan yang seperti ini." Asisten pelatih Lazio mengakui bahwa anak asuhnya sangat terpengaruh oleh suasana stadion dan tidak bisa menampilkan performa terbaiknya.


Inter akhirnya merebut scudetto 2009/2010 dengan keunggulan 2 poin atas AS Roma. Syukurlah, Lazio mampu memenangi 2 laga sisa, terhindar degradasi dan menempati posisi akhir klasemen di urutan ke 12. Insiden ini membuat presiden Lazio, Claudio Lotito marah besar. Tahun 2003 Lazio memutuskan untuk mengistirahatkan jersey no. 12 sebagai penghormatan pada Irriducibili Lazio sebagai "pemain ke 12". Tetapi karena kejadian ini (ditambah lagi dengan kehadiran politisi lawan Lotito di tribun Irriducibili Lazio beberapa pertandingan sebelumnya) maka jersey no. 12 ditarik kembali dari peristirahatannya dan pada musim 2010/2011 dipakai oleh portiere kedua Lazio, Tomasso Berni. Musim 2011/2012 jersey no 12 dipakai oleh difensore Marius Stankevicius. Satu bukti lagi, bahwa bagi Irriducibili Lazio, persahabatan dan solidaritas adalah yang terpenting.


Kawan dan Rival Bersama, Bagaimana di Indonesia?


Sejarah telah berbicara, dan akhirnya menempatkan AS Roma, AC Milan dan Juventus sebagai rival bersama Lazio dan Inter. Di Indonesia, gamellagio Lazio-Inter ini masih sangat kurang terasa. Tak jarang Laziali dan Interisti justru terlibat perdebatan panas di berbagai grup dan fanpage. Padahal di Italia, persaudaraan ini demikian erat di dunia maya dan di dunia nyata. Yang telah ada adalah menempatkan AS Roma, AC Milan dan Juventus sebagai rival bersama. Satu keanehan lagi di Indonesia, Milanisti dan Juventini cenderung bersahabat, sementara di Italia, mereka berdua adalah rival.


(Dari berbagai sumber: forum LaCurvaNord, LazioForever, ForzaInterForums, UltrasLazio dan IrriducibiliLazio).

Non Mollare Mai



FORZA GAMELLAGGIO... 8) FORZA LAZIO ALE...

Selasa, 16 April 2013

SENJAKU MEMANDANG PINTU SURGA

Catatan Senjaku  yang ingin kubagi denganmu…:)


Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.QS : Al-Isra : 23


Ibu…., Lentik jarinya melembutkan

Ia sanggup memikul beban di pundaknya walau harus berusaha menutup lelah dengan senyuman. Ibu adalah status teragung yang disebut sebanyak tiga kali oleh Nabi. Ibu.. Ibu.. dan Ibu.. kata itulah yang disebut sebagai panggilan yang meneguhkan status kemanusian dan panggilan yang membawa makna perjuangan. Pegalnya membawa kandungan, susahnya posisi berbaring, dan sakitnya melahirkan. Tapi juga senyum manis di saat berdarah-darah mendengar tangis sang anak pecah.

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan,….. QS : Al-Ahqaaf : 15”

Ia mampu berjalan tanpa alas dan bersandar tanpa empukan bantal. Aku Lihat lelah dan keteduhan di raut wajahnya yang sayup, aku pandang sekali lagi kerut di wajahnya, seolah fitrahnya ingin berkata kepada anak-anaknya:

Jangan panggil aku ibu!!!, jika aku tak sanggup menyejukkan hatimu yang gundah dan gelisah. Jika  kau mengadu, maka aku tak peduli dengan kesusahanku sendiri!!!

Jangan sebut aku ibu!!!, jika aku tak mampu menyegarkan pagimu. Isi perutmu yang kosong selalu aku atasi, walau hanya dengan segelas kopi, teh atau susu...

Jangan gelari aku ibu!!!, jika aku tak bisa nyenyakkan malammu. Dinginmu akan kuselimuti dengan selimut yang menghangatkan, walau hanya dengan sepenggal kain tipis…

Jauhkanlah aku dengan kata ibu!!!, jika aku tak ikut merasakan kesusahanmu. Air mataku tak pernah kering untukmu, dan munajatku kepada Tuhan tak sedikit pun tertinggal hajat untuk kebaikanmu.. Akulah ibu yang membesarkanmu dengan lentik jari yang lebih lembut dari bulu lembu...

Seketika fitrah itu seperti mencekik hati dan menampar akalku ; ya..bunayya.., jawab!!! dan balaslah fitrah itu  dengan kelembutan ;

wahai Ibu,,, jangan panggil aku anak!!!, jika aku tak mampu menjadi pagar yang menjaga kehormatanmu, jika aku tak sanggup menggantikan hidangan kopi, susu dan tehmu dengan baktiku, jika aku tak sanggup menukar selimut tipismu dengan kerendahan suaraku, dan jika aku tak sanggup menghapus air matamu dengan doa kepadaNya…; Ya Malikul Mulk.. Sayangilah Ibuku, Sayangilah Ibuku, Sayangilah Ibuku..


Senja kemudian berjalan menerawang sosok laki-laki tua yang terbiasa duduk di teras Rumah. Ia adalah Ayah…, Kekar Tangannya selalu memacu Semangat…

Aku Lihat keringatnya yang bercucuran, dahulu ia berjalan memenuhi tanggung jawab nafkah, tak peduli panas, hujan, dan badai. Sekarang semangatnya pun tak padam mengarungi fitrahnya. Ia adalah Rajaku yang membangun Istana tempat berteduh dengan tangannya yang kekar.  Marahnya kepada anak tidaklah berdiri sendiri melainkan ia bersanding dengan amanah dan kasih sayang. Ia imam yang mengajarkan kebijaksanaan berpikir dan kesederhanaan bertindak, ia tegar dan tak satu pun tetes air mata ia tampakkan untuk menunjukan kesusahan kecuali disembunyikannya. Ia adalah sosok yang tak cengeng, tapi tetap menangis mata dan hatinya  ketika berpisah dengan anak-anaknya.

Aku lihat bentuk tubuhnya yang kian hari akan membungkuk, rambut dan jenggotnya yang telah beruban, dan kubaca sekali lagi raut wajah kerutnya yang menyimpan kegelisahan.., ia tak pernah merasakan nyenyaknya malam akibat memikirkan masa depan anak-anaknya di dunia dan akhirat,

Fitrahnya memberikan penegasan : jangan panggil aku ayah!!!, jika aku tak mampu mengayomi, membesarkan dan mendidikmu. Akulah Ayah yang memacu semangat hidupmu untuk berdiri optimis dengan dua tanganku yang lebih kuat dari akar pohon.

Fitrahnya  berteriak mencekik hati dan akalku, maka jawablah isyarat itu dengan sikap yang optimis ;

Wahai Ayah,,, Jangan panggil aku anakmu!!!, jika aku tak membuatmu bangga sebagai dzuriatmu di mata manusia dan Allah, dan jangan sandingkan namaku dengan yang lain karena aku tak rela jika namaku harus berpisah dengan namamu..

Panggilah mereka dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah (QS. Al-Ahzab : 5)

Ya.. Malikul Mulk..Sayangilah Ayaku..Sayangilah Ayahku..Sayangilah Ayahku..

Menggemalah kemudian Sabda itu… “Tidaklah seorang Muslim yang mempunyai kedua Orang Tua, kemudian waktu pagi ia lakukan kebaikan kepada keduanya,kecuali Allah bukakan untuknya dua pintu surga. Dan ketika sore hari ia masih melakukan kebaikan kepada kedua orang tuanya, kecuali Allah bukakan lagi untuknya dua buah pintu surga” (HR. Imam Al-Baihaqi).

Aduhai.. Itulah sebabnya tangisan Iyas bin Muawiyah pecah tatkala Ibunya Meninggal. “Mengapa Engkau Menangis ? ia menjawab : Aku memiliki dua buah pintu yang terbuka menuju surga dan sekarang salah satu pintu tersebut telah tertutup”

Saudaraku…

Kita yang telah ditinggalkan keduanya, mari meniti keshalehan dan untaian ribu doa sebagai amal mereka yang tidak terputus...

Kita  yang hanya tinggal memiliki satu pintu… marilah meniti jalan menuju pintu yang tersisa…

Dan  kita yang masih memiliki keduanya. Mari!! sebelum kedua pintu surga itu tertutup...

“Ibuku telah meminta aku untuk membeli jantung pohon kurma. Setiap kali ibuku meminta sesuatu yang aku mampu, pasti aku penuhi” Itulah bakti Usamah RA yang selalu memenuhi permintaan ibunya jika ia mampu.

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil."(QS Al-Isra :24)

Ahh.., Berapa banyak sudah kita meninggikan suara di hadapan mereka, sedikit sekali kita bersujud mendoakan mereka, dan tak terhitung sudah kita menolak permintaannya padahal diri kita mampu…

Ya.. Allah, hamba memohon ampun dari lidah pandir yang begitu mudah mengeluarkan satuan, puluhan, ratusan bahkan ribuan kata yang lebih jelek darikata ‘ah’. Hamba memohon Ampun dari keluarnya bercak dan tetesan Air mata hatinya karena perilaku hamba…, Jika diri memang tak kuasa karena takdirMu untuk memenuhi permintaan mereka, maka sisakanlah diri ini untuk menjadi anak shaleh yang meminta keselamatan mereka dariMu ya Allah.., di setiap sujudku di atas lembaran sajadah, didalam doaku, di sisa pengharapanku, dan di saat kematian mengampiriku. Sayangilah mereka ya Allah.. Sayangilah mereka ya Allah…

Ayah.. Ibu..

Sampai pada akhir catatan ini, walau bisa kutahan tetesannya, namun tetaplah aku kehabisan bait-bait sajak dan berandai logika untuk menggambarkan jahadamu yang menghiasi halaman hatiku...Tadinya…, pada catatan di atas ingin ku umpamakan seperti kuatnya baja dan kokohnya karang untuk melukiskan keteguhan dan kesabaran kalian dalam memelihara, membesarkan dan mendidik kami anak-anakmu. Tapi sungguh tak layak kusandingkan engkau berdua dengan benda-benda yang jelas tak bernyawa itu.

...................

Renungan senja ini berakhir 15 april menjelang maghrib,.. berdiri di depan pintu kamar menikmati secangkir kopi di kala senja, bersama hembusan nafas yang sesekali sesak. Simphony alam dan hamparan laut biru kota Ambon, gunung dan tanjungnya. Langit tetap biru walau sesekali putih awan menutupi, dan laut masih tetap biru bersama perahu nelayan dan kapal para saudagar. Tak jatuh memang Air Mata di atas keyboard laptop saat jari-jari menyelesaikan catatan ini, tapi bercaknya tetap membanjiri mega-mega yang mendung di cakrawala hatiku….bukanlah sebuah kebetulan bagiku dikarenakan bertepatan dengan hari kelahiran Nabiku Ahmad Ibni Abdillah untuk mereka yg bersunnah fi yaumil itsnain ,,

16 April,, 26 Tahun sudah, bernafas dengan nikmat umur yang Allah karuniakan bersama buah tangan yang membesarkan dan belaian lentik jari kasih sayang orang tua terbaik sepanjang masa..
Inilah sebuah kado muhasabah dariku untuk diriku, untuk dirimu duhai ayah ibu-ku dan untukmu yg bersempat diri membaca catatan senjaku...semoga rabithah  senantiasa menjaga kita dalam barisan penyayang dua pintu surga di jalan cintaNYA...

Jazakumullahu Khairul Jazaa..

Ya.. Rabb, Arhamhuma Kamaa Rabbayaani Shogiira…

Ambon, 16 April 2013

Sabtu, 23 Maret 2013

JIKA IA BERKATA DEMIKIAN, MAKA IA ADALAH BENAR !!!

Bumi telah dilalui..,
Negeri  Syam telah jauh…
Makkah telah dekat..
dan di sana Bisikan itu berkecamuk hebat..

“Sesungguhnya Muhammad telah meletakkan bara api di hidung mereka.”  Bara Api ? apa yang terjadi ? Ia berkata : “Sesungguhnya Allah mengutusnya supaya kita menyembahNya saja dan meninggalkan  tuhan-tuhan kita”

Suara-suara itu terus bercampur dalam kebisingan yang merangsang di saat penjemputan para kafilah yang pulang. Sampailah suara itu pada seorang kafilah yang tenang berdiri menatap khidmat kampung halamannya,ia mendengar dan berusaha mengatasi air mata dengan kegembiraan hingga mereka memasuki pintu makkah.

Mendekatlah Amru bin Hisyam atau yang dikenal dengan sapaan Abu Jahal, disambutnya kafilah itu dengan satu pelukan dan berkata kepadanya :apakah mereka telah memberitahukan kepadamu tentang  sahabatmu..., hai Atiq ? Apakah engkau maksudkan sahabatku Muhammad ? “Ya, kumaksudkan anak yatim bani hasyim itu”.

Apakah engkau mendengar apa yang dikatakannya wahai Amru bin Hisyam ? ya.. aku mendengarnya dan semua orang mendengarnya. “Apa katanya” ? ia berkata bahwa di langit ada Tuhan yang mengutusnya kepada kita untuk menyembahNya dan meninggalkan sembahan bapak-bapak kita. “Apakah ia berkata Allah menurunkan wahyu kepadanya” ? benar. “Tidakkah ia berkata bagaimanaTuhannya berbicara dengannya” ? ia berkata bahwa Jibril datang padanya di guaHira.

Bersemilah senyum kebahagian dan keluarlah ungkapan Atiq dari suara tenangnya yang menggelagar dan pasti kepada Abu Jahal  “JIKA IA BERKATA DEMIKIAN, MAKA IA ADALAH BENAR”

Bumi seketika memutar Abu Jahal, senyumnya  berubah menjadi kecut, wajah antusiasnya pun seketika itu mencucurkan keringat dingin mendengar perkataan Atiq…Ia adalah kata-kata keimanan yang diucapkan sebelum ia benar-benar dikukuhkan oleh Allah dengan syahadatnya..

Dan tahukah anda siapa sang kafilah pengucap  ungkapan itu? ia adalah Abdullah bin Abu Quhafah `Utsman bin Amir bin Amr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taym bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib, Al-Quraisyi,At-Tamimi. Nasabnya bertemu dengan nasab Rasulullah saw. di Murrah bin Ka’ab.

Ia dikenal dengan sebutan Abubakar Ashidiq, yang membenarkan, yang bersabar dengan keyakinan dan kegembiraannya, hingga tibalah Allah menentukan urusannya..

Dan marilah saudaraku.., kita habiskan waktu ini sejenak bersama perkataan Abu bakar yang unik dan menyeluruh ini..

“JIKA IA BERKATA DEMIKIAN, MAKA IA ADALAH BENAR”

Tak berlama-lama ia menghapus kelelahannya setelah pulang berdagang sebagaimana kebiasaannya.., kegembiraan dan kepercayaannya kepada sang sahabat yang telah dikenalnya sebagai manusia yang tidak pernah berdusta itu berlabuh dalam penantian imannya, pencarian itu kian dekat dan berakhir dengan pertemuan di antara keduanya.  dengan langkahnya ia mengambil jalannya menuju Rasul Allah.

Abu bakar mengetuk pintu dan memanggil. Seketika  berseri-serilah rona kehidupan di wajah Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam “Ia adalah Atiq wahai khadijah”seru Rasul mengabarkan kepada sang istri..
Singkat cerita.., pembicaraan pun berlangsung antara keduanya dalam temaram cahaya di bilik kecil yang dinaungi dan dijaga oleh Allah dan para malaikatNya…

Berkatalah  Abu bakar: “benarkah apa yang diberitakan orang kepadaku tentangmu wahai sahabatku ?
Apakah yang mereka beritakan kepadamu ? Mereka berkata bahwa Allah mengutusmu kepada kami agar menyembahNya dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu.
Apa jawabanmu kepada mereka hai Atiq ? kukatakan kepada mereka  : “Jika demikian, maka ia adalah benar”

Meneteslah air mata Rasulullah menghiasi suasana kegembiraan, pujian syukur  mengendap dalam kalbu. Beliau berdiri memeluk dan mencium dahi Atiq  lalu kembali duduk  dengan menceritakan kepadanya tentang bagaimana datangnya wahyu di gua hira dan membacakan ayat yang telah turun itu di hadapannya..

Hanya kepala yang kemudian tertunduk dalam kekhusyukan dan ketakwaan sebagai penghormatan.. ketika Rasul menawarkan Islam kepadanya, dengan cepat Abu bakar mengangkat kepalanya serta kedua tangannya menjabat tangan kanan Rasul dan berkata  “Aku Bersaksi Bahwa Engkau adalah Benar dan Dipercaya.., Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan  Allah”.

Telah masuk islam orang yang dipilih Allah untuk menjadi As-Shiddiq bagi RasulNya.. menjadi orang kedua dari dua orang dalam gua yang ketiganya adalah Allah, dan yang kelak menjadi khalifah penerus perjuangan selepas nabi.

Jiwa dari keadaan saat itu telah melahirkan sebuah zaman secara keseluruhan, dengan generasi-generasi selanjutnya beserta kemenangannya. Ya.,Karena ketika itu, dalam keadaan yang menyaksikan tangan yang bersalaman dan hati yang membaiat, jiwa dari suasana itu meledak dan mengeluarkan isinya yang menakutkan..

Tidak seorang pun mendengar suara ledakan itu, saya, anda, mereka, bahkan orang-orang yang hidup di zaman itu,  ia adalah karena suara keyakinan dalam hati kedua orang yang telah terikat baiat lebih tinggi dari setiap suara selain itu…, suara keimanan yang lahir di saat orang-orang arab sekitarnya menertawakan dan mengingkari risalah sang Rasul.

Ibnu Abbas berkata: RasuluLlah saw. bersabda: “Tiada aku membicarakan tentang Islam kepada seseorang, melainkan ia menolak dan membantah perkataanku, kecuali Ibnu Abu Quhafah, maka sesungguhnya aku tidak pernah mengatakan tentang sesuatu kepadanya kecuali ia menerimanya dan tegar di atasnya.” (HR. Abu Nuaim, Ibnu Asakir,  dan Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa al-Nihayahnya)

Fainnahu lam yatala’tsam.. “karena ia tak bimbang”. Begitulah rasulullah memuji keimanan Abu bakar..Ia adalah penggambaran yang paling istimewa terhadap iman Abu bakar, dan sesungguhnya ia adalah iman yang tidak pernah bimbang selamanya. Tidak bimbang pada kesempatan pertama, sehingga bersegeralah ia menuju kepada islam seperti kesegeraan orang yang haus dan rindu.

Masih ada lagi kah ?? Mari kita tinggalkan keadaan saat itu dan menyelami  keadaan yang lain..

Beberapa tokoh Quraisy pergi menuju Rumah Abu bakar dengan gembira dan dengki,  mereka mengejek dan tertawa dengan sentilan mereka “hai Atiq, segala urusanmu hari ini adalah remeh.., sahabatmu itu berangkat diwaktu malam, kembali di waktu malam, dan di waktu pagi sudah berada di hadapan kita,” Hahaha.. ia disana, di dekat ka’bah sedang berbicara bahwa Tuhannya telah memperjalankannya tadi malam di Baitul Maqdis”.

Lalu bagaimanakah Abubakar menanggapinya ?

Sebelum suara-suara itu berhenti, sambil ia juga menenangkan kaum muslim yang bingung dengan keadaan itu.., kembali ia membuat ejekan tokoh-tokoh  Quraisy menjadi sampah yang membusuk dan tak bernilai sedikitpun untuk mampu merubah imannya.., Imam Al-Hakim dalam Al-Mustadraknya meriwayatkan perkataan Abubakar yang tegaknya  bak karang, dan yang tajam melebihi ujung belati :

Ayyu Ba’sin ?
Apa yang membuat kalian merasa berat (dengan perkataannya itu)!?

“Inni la ushoddiquhu fiimaa huwa ab’adu min dzalik”
Aku membenarkannya dalam hal yang lebih jauh dari itu.!!!
Ushoddiquhu fii Khabrissamaai ya’tiihi fii gadwatin aw rawhatin.
Aku membenarkannya dalam khabar langit yang datang kepadanya diwaktu pagi atau sore.!!!

Maka jika ia berkata demikian, ia adalah BENAR!!!

Adakah ada kata2 yang mampu mengungkapkan sikap ini ? Atau ingin mengomentarinya tanpa dikuasai rasa malu dan kelemahan untuk melakukannya ???

Satu ungkapan dimana kesempatan dan keadaan saat itu mampu memberikan pelajaran kepada kita “Wahai Allah yang memberikan keyakinan ini…,Maha Suci Engkau yang telah memperjalankan hambamu.. Maha suci Engkau yaAllah..

Ini adalah perkataan seorang yang beriman tidak dengan kebetulan, akan tetapi beriman karena kecerdasannya, dan ia juga tidak beriman karena perasaan, tapi lebih dari itu.., kecerdasan berkumpul dalam jiwa, akal dan hatinya untuk mengungkapkan keimanannya itu..

Lihatlah kembali kepada perkataannya itu “Aku membenarkannya dalam hal yang lebih jauh dari itu.!!!, Aku membenarkannya dalam khabar langit yang datang kepadanya di waktu pagi atau sore.!!”

Sesungguhnya Allah yang kepadaNya Abubakar beriman memilki kekuasaan yang tak terhingga. Zaman, tempat, kejauhan dan kedekatan adalah hal-hal yang berkaitan dengan kemampuan manusia. Adapun Allah yang berkata kepada sesuatu : “Jadilah..maka jadilah..” maka apakah arti jarak yang jauh dan waktu yang singkat di hadapan kekuasaanNya?

Dan sesungguhnya Rasul yang kepadanya Abubakar beriman adalah insan yang tiada pernah berdusta.. adalah Abubakar orang yang sangat mengenal dan banyak mengetahui dengan baik jarak dan waktu yang di tempuh dalam perjalanan Makkah ke Syam.

Lantas “bagaimanakah Rasul pergi ke Baitul Maqdis dan kembali dari situ dalam satu malam saja ?? bukanlah disitu problemnya, akan tetapi masalahnya adalah… “Apakah Muhammad mengatakan hal itu ? jika ia berkata demikian, maka ia adalah BENAR!!!

Saudaraku…

Hari-hari berlalu dengan melipat kerinduan orang-orang yang beriman .. satu dari mutiara zaman yang telah ditakdirkan menjadi peserta perjuangan rabbani  itu selalu siap membela Agama Allah dengan harta dan jiwanya..pena-pena sejarah  telah menulis dan berbicara banyak tentang sosok manusia agung yang berdiri tegak menyertai perjalanan sang Rasul.. Ia adalah pengucap  perkataan iman yang menghadang gelombang kemusyrikan…,ia adalah guru mata pelajaran iman yang kokoh bagaikan karang, yang unggul menambah cahaya pembebasan jahiliyah, yang menjadi bersih suci dalam celupan warna Allah.

 “Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka Itulah orang-orang yang bertakwa.” (Q. S. Zumar : 33)

Telah diriwayatkan oleh Al-Bazzar dan Ibnu Asakir, bahwa `Aliradhiallahu ‘anhu. Berkata tentang tafsir ayat tersebut ; ialah bahwa orangyang membawa kebenaran itu adalah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.Sedangkan orang yang membenarkan itu adalah Abu Bakar radhiallahu ‘anhu…

Imam al-Baihaqi meriwayatkan dalam Syu’abul Iman, bab al-Qaul fiziyadatil Iman wa Naqshanih, dari Umar bin Khattab:
“Jika ditimbang keimanan Abu Bakar dengan keimanan seluruh umat maka akan lebih berat keimanan Abu Bakar.”

Ia pula adalah sahabat yang didoakan nabi dan dibelanya sebagaimana Bukhari meriwayatkan dalam Shohihnya, Rasulullah bersabda “Semoga Allah mengampunimu wahai Abu Bakr!” beliau megucapakan tiga kali. Lalu beliau bersabda “Sesungguhnya Allah telah mengutusku kepada kalian namun kala itu kalian katakan ‘Engkau berdusta!’ Sedang Abu Bakr berkata ‘Engkau benar!’ Ia mengorbankan jiwa dan harta bendanya untuk membela aku. Lalu apakah kalian hendak meninggalkan sahabatku itu?” beliau mengucapakan ucapan itu dua kali. Maka tidak ada yang berani mengganggu Abu Bakr setelah itu.

Begitulah pesan Nabi!! Apakah kalian akan meninggalkan Abu bakar ? tidak!  bagi mereka yang beriman kepada Allah dan RasulNya… tidak! bagi mereka yang mau berfikir tentang cerita2 keimanan yang unggul..

“Maka ceritakanlah kisah-kisah tersebut agar mereka berfikir.”(Qs. Al A’raf: 176)

Dan inilah akhir dari puncak keimanan itu…, lari-lari kecilnya menahan kesedihan dan cintanya menuju ka’bah tempat dimana Rasul berada. Tidak sedikitpun ia mempedulikan keributan yang ada di sekelilingnya dan tidak pula ia peduli dengan bisikan-bisikan orang-orang dungu itu. Ia datang tunduk dan memeluk Nabi dengan derai air mata keimanan.. dengan desahan nafas yang tidak beraturan bersama suara yang terbata..berkatalah Abubakar “ya..Rasulullah yang kulebihkan dari bapak dan ibuku, demi Allah sesungguhnya engkau adalah benar, demi Allah engkau adalah benar”

Hufft…

Ia akan mengatakannya setiap kali Muhammad datang membacakan ayat.
Ia akan mengatakannya setiap kali timbul fitnah yang menghasut.
Ia akan mengatakannya setiap kali timbul kekalahan yang menyedihkan..
Ia akan mengatakannya sampai Allah memberikan ganjaran atas hal itu sehingga memperoleh gelar As Shidiq (yang membenarkan) dari Allah dan RasulNya..
Semboyan hati dan lagu seruannya adalah selalu… dan semoga pula kita tetap mengingat mata pelajaran iman ini selalu..

“JIKA RASUL BERKATA DEMIKIAN..,MAKA IA ADALAH BENAR”

Note ini adalah jawaban untuk mereka Syiah Rafidah Laknatullah yang hingga saat ini masih gemar melaknat Kahlifah Abu Bakar RA...

Wassalam.. ^_^