Bumi telah dilalui..,
Negeri Syam telah jauh…
Makkah telah dekat..
dan di sana Bisikan itu berkecamuk hebat..
“Sesungguhnya Muhammad telah meletakkan bara api di hidung mereka.” Bara Api ? apa yang terjadi ? Ia berkata : “Sesungguhnya Allah mengutusnya supaya kita menyembahNya saja dan meninggalkan tuhan-tuhan kita”
Suara-suara itu terus bercampur dalam kebisingan yang merangsang di saat penjemputan para kafilah yang pulang. Sampailah suara itu pada seorang kafilah yang tenang berdiri menatap khidmat kampung halamannya,ia mendengar dan berusaha mengatasi air mata dengan kegembiraan hingga mereka memasuki pintu makkah.
Mendekatlah Amru bin Hisyam atau yang dikenal dengan sapaan Abu Jahal, disambutnya kafilah itu dengan satu pelukan dan berkata kepadanya :apakah mereka telah memberitahukan kepadamu tentang sahabatmu..., hai Atiq ? Apakah engkau maksudkan sahabatku Muhammad ? “Ya, kumaksudkan anak yatim bani hasyim itu”.
Apakah engkau mendengar apa yang dikatakannya wahai Amru bin Hisyam ? ya.. aku mendengarnya dan semua orang mendengarnya. “Apa katanya” ? ia berkata bahwa di langit ada Tuhan yang mengutusnya kepada kita untuk menyembahNya dan meninggalkan sembahan bapak-bapak kita. “Apakah ia berkata Allah menurunkan wahyu kepadanya” ? benar. “Tidakkah ia berkata bagaimanaTuhannya berbicara dengannya” ? ia berkata bahwa Jibril datang padanya di guaHira.
Bersemilah senyum kebahagian dan keluarlah ungkapan Atiq dari suara tenangnya yang menggelagar dan pasti kepada Abu Jahal “JIKA IA BERKATA DEMIKIAN, MAKA IA ADALAH BENAR”
Bumi seketika memutar Abu Jahal, senyumnya berubah menjadi kecut, wajah antusiasnya pun seketika itu mencucurkan keringat dingin mendengar perkataan Atiq…Ia adalah kata-kata keimanan yang diucapkan sebelum ia benar-benar dikukuhkan oleh Allah dengan syahadatnya..
Dan tahukah anda siapa sang kafilah pengucap ungkapan itu? ia adalah Abdullah bin Abu Quhafah `Utsman bin Amir bin Amr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taym bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib, Al-Quraisyi,At-Tamimi. Nasabnya bertemu dengan nasab Rasulullah saw. di Murrah bin Ka’ab.
Ia dikenal dengan sebutan Abubakar Ashidiq, yang membenarkan, yang bersabar dengan keyakinan dan kegembiraannya, hingga tibalah Allah menentukan urusannya..
Dan marilah saudaraku.., kita habiskan waktu ini sejenak bersama perkataan Abu bakar yang unik dan menyeluruh ini..
“JIKA IA BERKATA DEMIKIAN, MAKA IA ADALAH BENAR”
Tak berlama-lama ia menghapus kelelahannya setelah pulang berdagang sebagaimana kebiasaannya.., kegembiraan dan kepercayaannya kepada sang sahabat yang telah dikenalnya sebagai manusia yang tidak pernah berdusta itu berlabuh dalam penantian imannya, pencarian itu kian dekat dan berakhir dengan pertemuan di antara keduanya. dengan langkahnya ia mengambil jalannya menuju Rasul Allah.
Abu bakar mengetuk pintu dan memanggil. Seketika berseri-serilah rona kehidupan di wajah Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam “Ia adalah Atiq wahai khadijah”seru Rasul mengabarkan kepada sang istri..
Singkat cerita.., pembicaraan pun berlangsung antara keduanya dalam temaram cahaya di bilik kecil yang dinaungi dan dijaga oleh Allah dan para malaikatNya…
Berkatalah Abu bakar: “benarkah apa yang diberitakan orang kepadaku tentangmu wahai sahabatku ?
Apakah yang mereka beritakan kepadamu ? Mereka berkata bahwa Allah mengutusmu kepada kami agar menyembahNya dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu.
Apa jawabanmu kepada mereka hai Atiq ? kukatakan kepada mereka : “Jika demikian, maka ia adalah benar”
Meneteslah air mata Rasulullah menghiasi suasana kegembiraan, pujian syukur mengendap dalam kalbu. Beliau berdiri memeluk dan mencium dahi Atiq lalu kembali duduk dengan menceritakan kepadanya tentang bagaimana datangnya wahyu di gua hira dan membacakan ayat yang telah turun itu di hadapannya..
Hanya kepala yang kemudian tertunduk dalam kekhusyukan dan ketakwaan sebagai penghormatan.. ketika Rasul menawarkan Islam kepadanya, dengan cepat Abu bakar mengangkat kepalanya serta kedua tangannya menjabat tangan kanan Rasul dan berkata “Aku Bersaksi Bahwa Engkau adalah Benar dan Dipercaya.., Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah”.
Telah masuk islam orang yang dipilih Allah untuk menjadi As-Shiddiq bagi RasulNya.. menjadi orang kedua dari dua orang dalam gua yang ketiganya adalah Allah, dan yang kelak menjadi khalifah penerus perjuangan selepas nabi.
Jiwa dari keadaan saat itu telah melahirkan sebuah zaman secara keseluruhan, dengan generasi-generasi selanjutnya beserta kemenangannya. Ya.,Karena ketika itu, dalam keadaan yang menyaksikan tangan yang bersalaman dan hati yang membaiat, jiwa dari suasana itu meledak dan mengeluarkan isinya yang menakutkan..
Tidak seorang pun mendengar suara ledakan itu, saya, anda, mereka, bahkan orang-orang yang hidup di zaman itu, ia adalah karena suara keyakinan dalam hati kedua orang yang telah terikat baiat lebih tinggi dari setiap suara selain itu…, suara keimanan yang lahir di saat orang-orang arab sekitarnya menertawakan dan mengingkari risalah sang Rasul.
Ibnu Abbas berkata: RasuluLlah saw. bersabda: “Tiada aku membicarakan tentang Islam kepada seseorang, melainkan ia menolak dan membantah perkataanku, kecuali Ibnu Abu Quhafah, maka sesungguhnya aku tidak pernah mengatakan tentang sesuatu kepadanya kecuali ia menerimanya dan tegar di atasnya.” (HR. Abu Nuaim, Ibnu Asakir, dan Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa al-Nihayahnya)
Fainnahu lam yatala’tsam.. “karena ia tak bimbang”. Begitulah rasulullah memuji keimanan Abu bakar..Ia adalah penggambaran yang paling istimewa terhadap iman Abu bakar, dan sesungguhnya ia adalah iman yang tidak pernah bimbang selamanya. Tidak bimbang pada kesempatan pertama, sehingga bersegeralah ia menuju kepada islam seperti kesegeraan orang yang haus dan rindu.
Masih ada lagi kah ?? Mari kita tinggalkan keadaan saat itu dan menyelami keadaan yang lain..
Beberapa tokoh Quraisy pergi menuju Rumah Abu bakar dengan gembira dan dengki, mereka mengejek dan tertawa dengan sentilan mereka “hai Atiq, segala urusanmu hari ini adalah remeh.., sahabatmu itu berangkat diwaktu malam, kembali di waktu malam, dan di waktu pagi sudah berada di hadapan kita,” Hahaha.. ia disana, di dekat ka’bah sedang berbicara bahwa Tuhannya telah memperjalankannya tadi malam di Baitul Maqdis”.
Lalu bagaimanakah Abubakar menanggapinya ?
Sebelum suara-suara itu berhenti, sambil ia juga menenangkan kaum muslim yang bingung dengan keadaan itu.., kembali ia membuat ejekan tokoh-tokoh Quraisy menjadi sampah yang membusuk dan tak bernilai sedikitpun untuk mampu merubah imannya.., Imam Al-Hakim dalam Al-Mustadraknya meriwayatkan perkataan Abubakar yang tegaknya bak karang, dan yang tajam melebihi ujung belati :
Ayyu Ba’sin ?
Apa yang membuat kalian merasa berat (dengan perkataannya itu)!?
“Inni la ushoddiquhu fiimaa huwa ab’adu min dzalik”
Aku membenarkannya dalam hal yang lebih jauh dari itu.!!!
Ushoddiquhu fii Khabrissamaai ya’tiihi fii gadwatin aw rawhatin.
Aku membenarkannya dalam khabar langit yang datang kepadanya diwaktu pagi atau sore.!!!
Maka jika ia berkata demikian, ia adalah BENAR!!!
Adakah ada kata2 yang mampu mengungkapkan sikap ini ? Atau ingin mengomentarinya tanpa dikuasai rasa malu dan kelemahan untuk melakukannya ???
Satu ungkapan dimana kesempatan dan keadaan saat itu mampu memberikan pelajaran kepada kita “Wahai Allah yang memberikan keyakinan ini…,Maha Suci Engkau yang telah memperjalankan hambamu.. Maha suci Engkau yaAllah..
Ini adalah perkataan seorang yang beriman tidak dengan kebetulan, akan tetapi beriman karena kecerdasannya, dan ia juga tidak beriman karena perasaan, tapi lebih dari itu.., kecerdasan berkumpul dalam jiwa, akal dan hatinya untuk mengungkapkan keimanannya itu..
Lihatlah kembali kepada perkataannya itu “Aku membenarkannya dalam hal yang lebih jauh dari itu.!!!, Aku membenarkannya dalam khabar langit yang datang kepadanya di waktu pagi atau sore.!!”
Sesungguhnya Allah yang kepadaNya Abubakar beriman memilki kekuasaan yang tak terhingga. Zaman, tempat, kejauhan dan kedekatan adalah hal-hal yang berkaitan dengan kemampuan manusia. Adapun Allah yang berkata kepada sesuatu : “Jadilah..maka jadilah..” maka apakah arti jarak yang jauh dan waktu yang singkat di hadapan kekuasaanNya?
Dan sesungguhnya Rasul yang kepadanya Abubakar beriman adalah insan yang tiada pernah berdusta.. adalah Abubakar orang yang sangat mengenal dan banyak mengetahui dengan baik jarak dan waktu yang di tempuh dalam perjalanan Makkah ke Syam.
Lantas “bagaimanakah Rasul pergi ke Baitul Maqdis dan kembali dari situ dalam satu malam saja ?? bukanlah disitu problemnya, akan tetapi masalahnya adalah… “Apakah Muhammad mengatakan hal itu ? jika ia berkata demikian, maka ia adalah BENAR!!!
Saudaraku…
Hari-hari berlalu dengan melipat kerinduan orang-orang yang beriman .. satu dari mutiara zaman yang telah ditakdirkan menjadi peserta perjuangan rabbani itu selalu siap membela Agama Allah dengan harta dan jiwanya..pena-pena sejarah telah menulis dan berbicara banyak tentang sosok manusia agung yang berdiri tegak menyertai perjalanan sang Rasul.. Ia adalah pengucap perkataan iman yang menghadang gelombang kemusyrikan…,ia adalah guru mata pelajaran iman yang kokoh bagaikan karang, yang unggul menambah cahaya pembebasan jahiliyah, yang menjadi bersih suci dalam celupan warna Allah.
“Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka Itulah orang-orang yang bertakwa.” (Q. S. Zumar : 33)
Telah diriwayatkan oleh Al-Bazzar dan Ibnu Asakir, bahwa `Aliradhiallahu ‘anhu. Berkata tentang tafsir ayat tersebut ; ialah bahwa orangyang membawa kebenaran itu adalah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.Sedangkan orang yang membenarkan itu adalah Abu Bakar radhiallahu ‘anhu…
Imam al-Baihaqi meriwayatkan dalam Syu’abul Iman, bab al-Qaul fiziyadatil Iman wa Naqshanih, dari Umar bin Khattab:
“Jika ditimbang keimanan Abu Bakar dengan keimanan seluruh umat maka akan lebih berat keimanan Abu Bakar.”
Ia pula adalah sahabat yang didoakan nabi dan dibelanya sebagaimana Bukhari meriwayatkan dalam Shohihnya, Rasulullah bersabda “Semoga Allah mengampunimu wahai Abu Bakr!” beliau megucapakan tiga kali. Lalu beliau bersabda “Sesungguhnya Allah telah mengutusku kepada kalian namun kala itu kalian katakan ‘Engkau berdusta!’ Sedang Abu Bakr berkata ‘Engkau benar!’ Ia mengorbankan jiwa dan harta bendanya untuk membela aku. Lalu apakah kalian hendak meninggalkan sahabatku itu?” beliau mengucapakan ucapan itu dua kali. Maka tidak ada yang berani mengganggu Abu Bakr setelah itu.
Begitulah pesan Nabi!! Apakah kalian akan meninggalkan Abu bakar ? tidak! bagi mereka yang beriman kepada Allah dan RasulNya… tidak! bagi mereka yang mau berfikir tentang cerita2 keimanan yang unggul..
“Maka ceritakanlah kisah-kisah tersebut agar mereka berfikir.”(Qs. Al A’raf: 176)
Dan inilah akhir dari puncak keimanan itu…, lari-lari kecilnya menahan kesedihan dan cintanya menuju ka’bah tempat dimana Rasul berada. Tidak sedikitpun ia mempedulikan keributan yang ada di sekelilingnya dan tidak pula ia peduli dengan bisikan-bisikan orang-orang dungu itu. Ia datang tunduk dan memeluk Nabi dengan derai air mata keimanan.. dengan desahan nafas yang tidak beraturan bersama suara yang terbata..berkatalah Abubakar “ya..Rasulullah yang kulebihkan dari bapak dan ibuku, demi Allah sesungguhnya engkau adalah benar, demi Allah engkau adalah benar”
Hufft…
Ia akan mengatakannya setiap kali Muhammad datang membacakan ayat.
Ia akan mengatakannya setiap kali timbul fitnah yang menghasut.
Ia akan mengatakannya setiap kali timbul kekalahan yang menyedihkan..
Ia akan mengatakannya sampai Allah memberikan ganjaran atas hal itu sehingga memperoleh gelar As Shidiq (yang membenarkan) dari Allah dan RasulNya..
Semboyan hati dan lagu seruannya adalah selalu… dan semoga pula kita tetap mengingat mata pelajaran iman ini selalu..
“JIKA RASUL BERKATA DEMIKIAN..,MAKA IA ADALAH BENAR”
Note ini adalah jawaban untuk mereka Syiah Rafidah Laknatullah yang hingga saat ini masih gemar melaknat Kahlifah Abu Bakar RA...
Wassalam.. ^_^