Kamis, 25 April 2013

GAMELLAGGIO

CERITA PERSAUDARAAN SAMPAI MATI LAZIALE_INTERISTI

KEMBAR ABADI :)

Sebuah Catatan Panjang Sejarah dan Kejadian Dramatis..bagus di baca buat para laziale dan interisti..


Stadio Giuseppe Meazza, San Siro, Milano, 23 April 2011. Menjelang laga Inter vs Lazio di pekan-pekan terakhir yang krusial di Serie A musim 2011/2012. Lazio sedang bersaing keras dengan Udinese untuk mengamankan tempat di UCL dan Inter sedang berjuang keras menghidupkan asa scudetto yang hampir pasti diraih AC Milan. Ketika kedua tim memasuki lapangan, dari salah satu bagian stadion puluhan flare warna biru langit dinyalakan, disusul pekikan ribuan orang: “A Roma Ce Solo Lazio” atau “Di Kota Roma Hanya Ada Lazio”. Kita yang hanya menyaksikan lewat televisi tentu mengira itu adalah ulah suporter Lazio. Sebenarnya bukan, flare dan teriakan itu justru dilakukan dari Curva Nord Stadio GM oleh puluhan ribu Interisti yang tergabung dalam Boys SAN dan beberapa kelompok ultras Inter lainnya. Baru setelah itu dari sisi Irriducibili Lazio dinyalakan flare warna biru gelap (warna Inter) dan para Laziali meneriakkan “Forza Inter Ale”. Itu adalah ritual selamat datang dari Interisti untuk Laziali dan tanda persahabatan Laziali bagi Interisti. Ritual itu sudah berusia lebih dari satu dekade sejak kedua kelompok suporter ultras menjalin gamellaggio (twinning, persaudaraan). Di Stadio Olimpico, ritual dilakukan sebaliknya. Irriducibili Lazio menyalakan flare biru gelap disertai teriakan “Forza Inter Ale” dan dibalas oleh Interisti dengan flare biru langit dan teriakan “A Roma Ce Solo Lazio.”


Mengapa kita bersahabat dengan Lazio? Karena sama-sama menempati Curva Nord? Dan mengapa Lazio berseteru dengan AS Roma? Karena menghuni kota yang sama? Itu memang salah satu alasan tetapi latar belakang sesungguhnya adalah sebuah sejarah panjang dan kompleks, dimulai bahkan dari saat awal eksistensi kedua klub itu.


Takdir Mulai Saat Kelahiran


SS Lazio dibentuk tahun 1900 oleh para politisi dan usahawan berhaluan politik kanan dan anti-Yahudi serta berbasis pendukung kaum terpelajar dan kalangan menengah-atas Roma. Kelompok berhaluan serupa juga lah yang mendirikan Inter saat melepaskan diri dari AC Milan tahun 1908.

Saat diktator fasis Benito Mussolini berkuasa di Italia, dia memerintahkan semua klub di kota Roma di-merger menjadi AS Roma tahun 1927. Semua mematuhi, kecuali SS Lazio yang menentang dan tetap berdiri sendiri. AS Roma dikuasai oleh golongan kiri dan didukung oleh kelas buruh dan masyarakat Yahudi (kelompok serupa yang mendukung AC Milan). Di kota Milan, Mussolini melakukan hal yang sama, dan Inter melakukan penentangan yang sama sehingga sementara harus berganti nama menjadi Ambrosiana Milano. Sejarah awal ini telah menyemai ikatan antara SS Lazio dan Inter serta menempatkan AS Roma dan AC Milan pada pihak yang berseberangan. Lokasi yang sama di Curva Nord (Lazio dan Inter) dan di Curva Sud (AS Roma dan AC Milan) makin mempertajam perbedaan ini. Dan, tentu saja, faktor lokasi di Kota yang sama menjadikan persaingan Lazio-Roma menjadi semakin memanas. Lazio dan pendukungnya merasa sebagai yang pertama di Roma, sedangkan AS Roma menganggap dirinya satu-satunya klub yang menyandang nama kota.

Persaingan ini sedemikian panasnya, sehingga Derby della Capitale (SS Lazio vs AS Roma) dinobatkan sebagai derbi paling panas di Italia bahkan di Eropa, melebihi Derby della Madoninna (Inter vs Milan), Derby Manchester (MU vs Manchester City) bahkan mengungguli El Classico (Barcelona vs Madrid). Kalau Interisti dan Milanisti hanya panas di dunia maya tetapi bersahabat di dunia nyata, Laziali dan Romanisti berseteru dalam arti sebenarnya, di dunia maya maupun di dunia nyata. Hampir tak pernah terjadi Derby della Capitale tanpa kerusuhan. Tercatat beberapa nyawa melayang dan ratusan orang telah terluka karena derbi ini. Derby della Capitale adalah “neraka” sepakbola Italia.


Gamellaggio Lazio-Inter


Persaudaraan ini terjadi sepanjang sejarah. Tak pernah ada catatan insiden antara Laziali dan Interisti. Kesamaan aliran politik dan basis pendukung membuat kedua kelompok suporter ini selalu rukun. Gamellaggio secara formal terjadi saat kedua suporter bertemu dalam final UEFA Cup tahun 1998 di Paris yang dimenangkan Inter dengan 3-0. Sikap ksatria Irriducibili Lazio dan sikap simpatik Boys SAN Inter membuat kedua suporter mendapatkan penghargaan fair play dari UEFA. Dan saat itu tercapailah kesepakatan persaudaraan antara Laziali dan Interisti yang makin menguat hingga hari ini.


Inilah beberapa kejadian unik yang menunjukkan eratnya gamellagio Lazio-Inter:


Nasib Tragis Zaccheroni, 5 Mei 2002


Pada pertandingan giornata 34 musim 2001/2002 tanggal (match terakhir, karena saat itu Serie A hanya berisi 18 tim), terjadi peristiwa yang unik di Stadio Olimpico pada laga Lazio vs Inter. Saat itu Inter di ambang juara karena cukup dengan mengalahkan Lazio maka mereka akan meraih scudetto mengungguli Juventus. Maka Laziali di Stadio Olimpico, dimotori Irriducubili Lazio mendukung Inter habis-habisan dan meminta Lazio kalah, agar yang mendapatkan scudetto Inter, rival Lazio: Juventus. Sayangnya malam itu para punggawa Nerazzurri gagal meraih scudetto yang sudah di depan mata, kalah 2-4 dari Biancoceleste. Dan Juventus merebut scudetto dengan 71 poin, diikuti Roma dengan 70 poin. Inter sendiri di posisi ketiga dengan 69 poin. Akibat kejadian ini, Irriducibili Lazio mendemo manajemen Lazio dan meminta allenatore Lazio, Alberto Zaccheroni dipecat. Zaccheroni pun akhirnya mengundurkan diri. Dia dimusuhi Laziali justru karena timnya memenangkan laga. Ironis, tapi itulah jiwa Irriducibili Lazio: persahabatan dan solidaritas ditempatkan di atas sepak bola itu sendiri.


Stadio Giuseppe Meazza Tanpa Banner dan Flare, 15 November 2007


Empat hari sebelumnya, seorang DJ terkenal di kota Roma, Gabriele Sandri, seorang pendukung ultras Lazio, menjadi korban tak berdosa dalam kerusuhan antara sekelompok suporter anarkis Juventus dan kepolisian kota Roma. Sandri tertembak di bagian belakang kepalanya oleh polisi. Kerusuhan pun meledak, menuntut keadilan. Tidak hanya karena para Laziali menyerang kantor polisi Roma, tapi juga di Milano, oleh Interisti menyerang kantor polisi Milano, menunjukkan solidaritasnya. Untuk menghormati Sandri, Inter menunda sehari pertandingan Inter vs Lazio di Stadio Giuseppe Meazza yang seharusnya digelar 14 November. Saat pertandingan berlangsung, Boys SAN Inter memprakarsai mengheningkan cipta selama 5 menit di stadion untuk menghormati Sandri. Dan malam itu, di Curva Nord Giuseppe Meazza, tempat para Interisti, sama sekali tidak terlihat sepotong pun spanduk, banner ataupun sebuah flare pun yang mereka nyalakan. Kelompok-kelompok ultras Inter hanya membentangkan sebuah spanduk besar dengan tulisan warna biru langit berlatar belakang biru gelap bertuliskan: “Gabriele Sandri, Kau Akan Selalu Berada di Hati Kami”.


Korban Berikutnya, Jersey No 12 SS Lazio, Minggu, 2 Mei 2010


Stadio Olimpico Roma dipenuhi pendukung Lazio dan Inter yang menantikan pertandingan Serie A giornata 36 musim 2009/2010. Pertandingan ini sangat menentukan bagi kedua tim. Bagi inter, memenangi pertandingan ini akan mempermudah meraih Scudetto, dan akan mengambil alih poisisi cappolista dari AS Roma yang sementara unggul 1 poin. Bagi Lazio memenangi pertandingan ini akan lebih mengamankan diri dari kemungkinan degradasi ke Serie B, karena saat itu Lazio berada di posisi 17 dan hanya terpaut 4 poin dari zona merah.

Ritual gamellagio seperti pada pembuka tulisan ini pun dilakukan. Itu hal biasa. Yang luar biasa adalah banyak bendera Inter dan spanduk-spanduk pemberi semangat bagi Inter dikibarkan oleh Irriducibili Lazio. Yang paling mencengangkan tentu saja sebuah spanduk para Laziali yang ditujukkan kepada para pemain Lazio sendiri: "Kalau sampai menit ke 80 Lazio unggul, kami akan masuk ke lapangan!" Spanduk ini disita polisi tak lama kemudian tetapi muncul spanduk-spanduk lain yang tak kalah mengerikan: "Nando (maksudnya Fernando Muslera), biarkan bola melewatimu, dan kami akan tetap menyayangimu." "Zarate, satu gol saja kau cetak, kami paketkan kau ke Buenos Aires." Rupa-rupanya para pendukung Lazio ingin agar Inter mengalahkan timnya malam itu, untuk melicinkan jalan Inter menuju scudetto. Mereka lebih memilih risiko Lazio turun ke Serie B daripada Roma yang memperoleh scudetto.


Suasana pertandingan pun menjadi sangat aneh. Lazio sama sekali tidak memperoleh dukungan fans-nya sendiri walaupun bermain di Olimpico. Sebaliknya Inter sebagai tamu justru memperoleh dukungan luar biasa. Setiap kali pemain Inter menguasai bola, para Laziali berteriak, "Biarkan mereka lewat!" Malam itu portiere Lazio, Fernando Muslera, bermain sangat gemilang. Tak kurang dari 10 penyelamatan luar biasa dilakukannya. Tiap kali Muslera menggagalkan gol Inter, teriakan cemoohan pun berkumandang ke arahnya. Akhirnya pada injury time babak pertama, tandukan Walter Samuel mengubah skor menjadi 0-1. Stadion bergelegar dan muncul spanduk ejekan dari Laziali bertuliskan, "Oh, Noooo Roma!" dan, "Scudetto Game Over, Roma!"


Di babak kedua mental pemain Lazio (kecuali Muslera yang tetap bermain gemilang) pun runtuh. Kesalahan demi kesalahan dilakukan dan membuat Thiago Motta menggenapkan kemenangan Inter menjadi 0-2 di menit ke 70. Di akhir pertandingan, para pemain Lazio meninggalkan pertandingan dengan sedih dan marah karena merasa “dihianati” Laziali. Presiden Roma, Rosella Sensi mengecam habis-habisan ulah Laziali tersebut. Jose Mourinho hanya berkomentar pendek, "Saya belum pernah menyaksikan yang seperti ini." Asisten pelatih Lazio mengakui bahwa anak asuhnya sangat terpengaruh oleh suasana stadion dan tidak bisa menampilkan performa terbaiknya.


Inter akhirnya merebut scudetto 2009/2010 dengan keunggulan 2 poin atas AS Roma. Syukurlah, Lazio mampu memenangi 2 laga sisa, terhindar degradasi dan menempati posisi akhir klasemen di urutan ke 12. Insiden ini membuat presiden Lazio, Claudio Lotito marah besar. Tahun 2003 Lazio memutuskan untuk mengistirahatkan jersey no. 12 sebagai penghormatan pada Irriducibili Lazio sebagai "pemain ke 12". Tetapi karena kejadian ini (ditambah lagi dengan kehadiran politisi lawan Lotito di tribun Irriducibili Lazio beberapa pertandingan sebelumnya) maka jersey no. 12 ditarik kembali dari peristirahatannya dan pada musim 2010/2011 dipakai oleh portiere kedua Lazio, Tomasso Berni. Musim 2011/2012 jersey no 12 dipakai oleh difensore Marius Stankevicius. Satu bukti lagi, bahwa bagi Irriducibili Lazio, persahabatan dan solidaritas adalah yang terpenting.


Kawan dan Rival Bersama, Bagaimana di Indonesia?


Sejarah telah berbicara, dan akhirnya menempatkan AS Roma, AC Milan dan Juventus sebagai rival bersama Lazio dan Inter. Di Indonesia, gamellagio Lazio-Inter ini masih sangat kurang terasa. Tak jarang Laziali dan Interisti justru terlibat perdebatan panas di berbagai grup dan fanpage. Padahal di Italia, persaudaraan ini demikian erat di dunia maya dan di dunia nyata. Yang telah ada adalah menempatkan AS Roma, AC Milan dan Juventus sebagai rival bersama. Satu keanehan lagi di Indonesia, Milanisti dan Juventini cenderung bersahabat, sementara di Italia, mereka berdua adalah rival.


(Dari berbagai sumber: forum LaCurvaNord, LazioForever, ForzaInterForums, UltrasLazio dan IrriducibiliLazio).

Non Mollare Mai



FORZA GAMELLAGGIO... 8) FORZA LAZIO ALE...

Selasa, 16 April 2013

SENJAKU MEMANDANG PINTU SURGA

Catatan Senjaku  yang ingin kubagi denganmu…:)


Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.QS : Al-Isra : 23


Ibu…., Lentik jarinya melembutkan

Ia sanggup memikul beban di pundaknya walau harus berusaha menutup lelah dengan senyuman. Ibu adalah status teragung yang disebut sebanyak tiga kali oleh Nabi. Ibu.. Ibu.. dan Ibu.. kata itulah yang disebut sebagai panggilan yang meneguhkan status kemanusian dan panggilan yang membawa makna perjuangan. Pegalnya membawa kandungan, susahnya posisi berbaring, dan sakitnya melahirkan. Tapi juga senyum manis di saat berdarah-darah mendengar tangis sang anak pecah.

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan,….. QS : Al-Ahqaaf : 15”

Ia mampu berjalan tanpa alas dan bersandar tanpa empukan bantal. Aku Lihat lelah dan keteduhan di raut wajahnya yang sayup, aku pandang sekali lagi kerut di wajahnya, seolah fitrahnya ingin berkata kepada anak-anaknya:

Jangan panggil aku ibu!!!, jika aku tak sanggup menyejukkan hatimu yang gundah dan gelisah. Jika  kau mengadu, maka aku tak peduli dengan kesusahanku sendiri!!!

Jangan sebut aku ibu!!!, jika aku tak mampu menyegarkan pagimu. Isi perutmu yang kosong selalu aku atasi, walau hanya dengan segelas kopi, teh atau susu...

Jangan gelari aku ibu!!!, jika aku tak bisa nyenyakkan malammu. Dinginmu akan kuselimuti dengan selimut yang menghangatkan, walau hanya dengan sepenggal kain tipis…

Jauhkanlah aku dengan kata ibu!!!, jika aku tak ikut merasakan kesusahanmu. Air mataku tak pernah kering untukmu, dan munajatku kepada Tuhan tak sedikit pun tertinggal hajat untuk kebaikanmu.. Akulah ibu yang membesarkanmu dengan lentik jari yang lebih lembut dari bulu lembu...

Seketika fitrah itu seperti mencekik hati dan menampar akalku ; ya..bunayya.., jawab!!! dan balaslah fitrah itu  dengan kelembutan ;

wahai Ibu,,, jangan panggil aku anak!!!, jika aku tak mampu menjadi pagar yang menjaga kehormatanmu, jika aku tak sanggup menggantikan hidangan kopi, susu dan tehmu dengan baktiku, jika aku tak sanggup menukar selimut tipismu dengan kerendahan suaraku, dan jika aku tak sanggup menghapus air matamu dengan doa kepadaNya…; Ya Malikul Mulk.. Sayangilah Ibuku, Sayangilah Ibuku, Sayangilah Ibuku..


Senja kemudian berjalan menerawang sosok laki-laki tua yang terbiasa duduk di teras Rumah. Ia adalah Ayah…, Kekar Tangannya selalu memacu Semangat…

Aku Lihat keringatnya yang bercucuran, dahulu ia berjalan memenuhi tanggung jawab nafkah, tak peduli panas, hujan, dan badai. Sekarang semangatnya pun tak padam mengarungi fitrahnya. Ia adalah Rajaku yang membangun Istana tempat berteduh dengan tangannya yang kekar.  Marahnya kepada anak tidaklah berdiri sendiri melainkan ia bersanding dengan amanah dan kasih sayang. Ia imam yang mengajarkan kebijaksanaan berpikir dan kesederhanaan bertindak, ia tegar dan tak satu pun tetes air mata ia tampakkan untuk menunjukan kesusahan kecuali disembunyikannya. Ia adalah sosok yang tak cengeng, tapi tetap menangis mata dan hatinya  ketika berpisah dengan anak-anaknya.

Aku lihat bentuk tubuhnya yang kian hari akan membungkuk, rambut dan jenggotnya yang telah beruban, dan kubaca sekali lagi raut wajah kerutnya yang menyimpan kegelisahan.., ia tak pernah merasakan nyenyaknya malam akibat memikirkan masa depan anak-anaknya di dunia dan akhirat,

Fitrahnya memberikan penegasan : jangan panggil aku ayah!!!, jika aku tak mampu mengayomi, membesarkan dan mendidikmu. Akulah Ayah yang memacu semangat hidupmu untuk berdiri optimis dengan dua tanganku yang lebih kuat dari akar pohon.

Fitrahnya  berteriak mencekik hati dan akalku, maka jawablah isyarat itu dengan sikap yang optimis ;

Wahai Ayah,,, Jangan panggil aku anakmu!!!, jika aku tak membuatmu bangga sebagai dzuriatmu di mata manusia dan Allah, dan jangan sandingkan namaku dengan yang lain karena aku tak rela jika namaku harus berpisah dengan namamu..

Panggilah mereka dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah (QS. Al-Ahzab : 5)

Ya.. Malikul Mulk..Sayangilah Ayaku..Sayangilah Ayahku..Sayangilah Ayahku..

Menggemalah kemudian Sabda itu… “Tidaklah seorang Muslim yang mempunyai kedua Orang Tua, kemudian waktu pagi ia lakukan kebaikan kepada keduanya,kecuali Allah bukakan untuknya dua pintu surga. Dan ketika sore hari ia masih melakukan kebaikan kepada kedua orang tuanya, kecuali Allah bukakan lagi untuknya dua buah pintu surga” (HR. Imam Al-Baihaqi).

Aduhai.. Itulah sebabnya tangisan Iyas bin Muawiyah pecah tatkala Ibunya Meninggal. “Mengapa Engkau Menangis ? ia menjawab : Aku memiliki dua buah pintu yang terbuka menuju surga dan sekarang salah satu pintu tersebut telah tertutup”

Saudaraku…

Kita yang telah ditinggalkan keduanya, mari meniti keshalehan dan untaian ribu doa sebagai amal mereka yang tidak terputus...

Kita  yang hanya tinggal memiliki satu pintu… marilah meniti jalan menuju pintu yang tersisa…

Dan  kita yang masih memiliki keduanya. Mari!! sebelum kedua pintu surga itu tertutup...

“Ibuku telah meminta aku untuk membeli jantung pohon kurma. Setiap kali ibuku meminta sesuatu yang aku mampu, pasti aku penuhi” Itulah bakti Usamah RA yang selalu memenuhi permintaan ibunya jika ia mampu.

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil."(QS Al-Isra :24)

Ahh.., Berapa banyak sudah kita meninggikan suara di hadapan mereka, sedikit sekali kita bersujud mendoakan mereka, dan tak terhitung sudah kita menolak permintaannya padahal diri kita mampu…

Ya.. Allah, hamba memohon ampun dari lidah pandir yang begitu mudah mengeluarkan satuan, puluhan, ratusan bahkan ribuan kata yang lebih jelek darikata ‘ah’. Hamba memohon Ampun dari keluarnya bercak dan tetesan Air mata hatinya karena perilaku hamba…, Jika diri memang tak kuasa karena takdirMu untuk memenuhi permintaan mereka, maka sisakanlah diri ini untuk menjadi anak shaleh yang meminta keselamatan mereka dariMu ya Allah.., di setiap sujudku di atas lembaran sajadah, didalam doaku, di sisa pengharapanku, dan di saat kematian mengampiriku. Sayangilah mereka ya Allah.. Sayangilah mereka ya Allah…

Ayah.. Ibu..

Sampai pada akhir catatan ini, walau bisa kutahan tetesannya, namun tetaplah aku kehabisan bait-bait sajak dan berandai logika untuk menggambarkan jahadamu yang menghiasi halaman hatiku...Tadinya…, pada catatan di atas ingin ku umpamakan seperti kuatnya baja dan kokohnya karang untuk melukiskan keteguhan dan kesabaran kalian dalam memelihara, membesarkan dan mendidik kami anak-anakmu. Tapi sungguh tak layak kusandingkan engkau berdua dengan benda-benda yang jelas tak bernyawa itu.

...................

Renungan senja ini berakhir 15 april menjelang maghrib,.. berdiri di depan pintu kamar menikmati secangkir kopi di kala senja, bersama hembusan nafas yang sesekali sesak. Simphony alam dan hamparan laut biru kota Ambon, gunung dan tanjungnya. Langit tetap biru walau sesekali putih awan menutupi, dan laut masih tetap biru bersama perahu nelayan dan kapal para saudagar. Tak jatuh memang Air Mata di atas keyboard laptop saat jari-jari menyelesaikan catatan ini, tapi bercaknya tetap membanjiri mega-mega yang mendung di cakrawala hatiku….bukanlah sebuah kebetulan bagiku dikarenakan bertepatan dengan hari kelahiran Nabiku Ahmad Ibni Abdillah untuk mereka yg bersunnah fi yaumil itsnain ,,

16 April,, 26 Tahun sudah, bernafas dengan nikmat umur yang Allah karuniakan bersama buah tangan yang membesarkan dan belaian lentik jari kasih sayang orang tua terbaik sepanjang masa..
Inilah sebuah kado muhasabah dariku untuk diriku, untuk dirimu duhai ayah ibu-ku dan untukmu yg bersempat diri membaca catatan senjaku...semoga rabithah  senantiasa menjaga kita dalam barisan penyayang dua pintu surga di jalan cintaNYA...

Jazakumullahu Khairul Jazaa..

Ya.. Rabb, Arhamhuma Kamaa Rabbayaani Shogiira…

Ambon, 16 April 2013