Selasa, 16 April 2013

SENJAKU MEMANDANG PINTU SURGA

Catatan Senjaku  yang ingin kubagi denganmu…:)


Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.QS : Al-Isra : 23


Ibu…., Lentik jarinya melembutkan

Ia sanggup memikul beban di pundaknya walau harus berusaha menutup lelah dengan senyuman. Ibu adalah status teragung yang disebut sebanyak tiga kali oleh Nabi. Ibu.. Ibu.. dan Ibu.. kata itulah yang disebut sebagai panggilan yang meneguhkan status kemanusian dan panggilan yang membawa makna perjuangan. Pegalnya membawa kandungan, susahnya posisi berbaring, dan sakitnya melahirkan. Tapi juga senyum manis di saat berdarah-darah mendengar tangis sang anak pecah.

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan,….. QS : Al-Ahqaaf : 15”

Ia mampu berjalan tanpa alas dan bersandar tanpa empukan bantal. Aku Lihat lelah dan keteduhan di raut wajahnya yang sayup, aku pandang sekali lagi kerut di wajahnya, seolah fitrahnya ingin berkata kepada anak-anaknya:

Jangan panggil aku ibu!!!, jika aku tak sanggup menyejukkan hatimu yang gundah dan gelisah. Jika  kau mengadu, maka aku tak peduli dengan kesusahanku sendiri!!!

Jangan sebut aku ibu!!!, jika aku tak mampu menyegarkan pagimu. Isi perutmu yang kosong selalu aku atasi, walau hanya dengan segelas kopi, teh atau susu...

Jangan gelari aku ibu!!!, jika aku tak bisa nyenyakkan malammu. Dinginmu akan kuselimuti dengan selimut yang menghangatkan, walau hanya dengan sepenggal kain tipis…

Jauhkanlah aku dengan kata ibu!!!, jika aku tak ikut merasakan kesusahanmu. Air mataku tak pernah kering untukmu, dan munajatku kepada Tuhan tak sedikit pun tertinggal hajat untuk kebaikanmu.. Akulah ibu yang membesarkanmu dengan lentik jari yang lebih lembut dari bulu lembu...

Seketika fitrah itu seperti mencekik hati dan menampar akalku ; ya..bunayya.., jawab!!! dan balaslah fitrah itu  dengan kelembutan ;

wahai Ibu,,, jangan panggil aku anak!!!, jika aku tak mampu menjadi pagar yang menjaga kehormatanmu, jika aku tak sanggup menggantikan hidangan kopi, susu dan tehmu dengan baktiku, jika aku tak sanggup menukar selimut tipismu dengan kerendahan suaraku, dan jika aku tak sanggup menghapus air matamu dengan doa kepadaNya…; Ya Malikul Mulk.. Sayangilah Ibuku, Sayangilah Ibuku, Sayangilah Ibuku..


Senja kemudian berjalan menerawang sosok laki-laki tua yang terbiasa duduk di teras Rumah. Ia adalah Ayah…, Kekar Tangannya selalu memacu Semangat…

Aku Lihat keringatnya yang bercucuran, dahulu ia berjalan memenuhi tanggung jawab nafkah, tak peduli panas, hujan, dan badai. Sekarang semangatnya pun tak padam mengarungi fitrahnya. Ia adalah Rajaku yang membangun Istana tempat berteduh dengan tangannya yang kekar.  Marahnya kepada anak tidaklah berdiri sendiri melainkan ia bersanding dengan amanah dan kasih sayang. Ia imam yang mengajarkan kebijaksanaan berpikir dan kesederhanaan bertindak, ia tegar dan tak satu pun tetes air mata ia tampakkan untuk menunjukan kesusahan kecuali disembunyikannya. Ia adalah sosok yang tak cengeng, tapi tetap menangis mata dan hatinya  ketika berpisah dengan anak-anaknya.

Aku lihat bentuk tubuhnya yang kian hari akan membungkuk, rambut dan jenggotnya yang telah beruban, dan kubaca sekali lagi raut wajah kerutnya yang menyimpan kegelisahan.., ia tak pernah merasakan nyenyaknya malam akibat memikirkan masa depan anak-anaknya di dunia dan akhirat,

Fitrahnya memberikan penegasan : jangan panggil aku ayah!!!, jika aku tak mampu mengayomi, membesarkan dan mendidikmu. Akulah Ayah yang memacu semangat hidupmu untuk berdiri optimis dengan dua tanganku yang lebih kuat dari akar pohon.

Fitrahnya  berteriak mencekik hati dan akalku, maka jawablah isyarat itu dengan sikap yang optimis ;

Wahai Ayah,,, Jangan panggil aku anakmu!!!, jika aku tak membuatmu bangga sebagai dzuriatmu di mata manusia dan Allah, dan jangan sandingkan namaku dengan yang lain karena aku tak rela jika namaku harus berpisah dengan namamu..

Panggilah mereka dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah (QS. Al-Ahzab : 5)

Ya.. Malikul Mulk..Sayangilah Ayaku..Sayangilah Ayahku..Sayangilah Ayahku..

Menggemalah kemudian Sabda itu… “Tidaklah seorang Muslim yang mempunyai kedua Orang Tua, kemudian waktu pagi ia lakukan kebaikan kepada keduanya,kecuali Allah bukakan untuknya dua pintu surga. Dan ketika sore hari ia masih melakukan kebaikan kepada kedua orang tuanya, kecuali Allah bukakan lagi untuknya dua buah pintu surga” (HR. Imam Al-Baihaqi).

Aduhai.. Itulah sebabnya tangisan Iyas bin Muawiyah pecah tatkala Ibunya Meninggal. “Mengapa Engkau Menangis ? ia menjawab : Aku memiliki dua buah pintu yang terbuka menuju surga dan sekarang salah satu pintu tersebut telah tertutup”

Saudaraku…

Kita yang telah ditinggalkan keduanya, mari meniti keshalehan dan untaian ribu doa sebagai amal mereka yang tidak terputus...

Kita  yang hanya tinggal memiliki satu pintu… marilah meniti jalan menuju pintu yang tersisa…

Dan  kita yang masih memiliki keduanya. Mari!! sebelum kedua pintu surga itu tertutup...

“Ibuku telah meminta aku untuk membeli jantung pohon kurma. Setiap kali ibuku meminta sesuatu yang aku mampu, pasti aku penuhi” Itulah bakti Usamah RA yang selalu memenuhi permintaan ibunya jika ia mampu.

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil."(QS Al-Isra :24)

Ahh.., Berapa banyak sudah kita meninggikan suara di hadapan mereka, sedikit sekali kita bersujud mendoakan mereka, dan tak terhitung sudah kita menolak permintaannya padahal diri kita mampu…

Ya.. Allah, hamba memohon ampun dari lidah pandir yang begitu mudah mengeluarkan satuan, puluhan, ratusan bahkan ribuan kata yang lebih jelek darikata ‘ah’. Hamba memohon Ampun dari keluarnya bercak dan tetesan Air mata hatinya karena perilaku hamba…, Jika diri memang tak kuasa karena takdirMu untuk memenuhi permintaan mereka, maka sisakanlah diri ini untuk menjadi anak shaleh yang meminta keselamatan mereka dariMu ya Allah.., di setiap sujudku di atas lembaran sajadah, didalam doaku, di sisa pengharapanku, dan di saat kematian mengampiriku. Sayangilah mereka ya Allah.. Sayangilah mereka ya Allah…

Ayah.. Ibu..

Sampai pada akhir catatan ini, walau bisa kutahan tetesannya, namun tetaplah aku kehabisan bait-bait sajak dan berandai logika untuk menggambarkan jahadamu yang menghiasi halaman hatiku...Tadinya…, pada catatan di atas ingin ku umpamakan seperti kuatnya baja dan kokohnya karang untuk melukiskan keteguhan dan kesabaran kalian dalam memelihara, membesarkan dan mendidik kami anak-anakmu. Tapi sungguh tak layak kusandingkan engkau berdua dengan benda-benda yang jelas tak bernyawa itu.

...................

Renungan senja ini berakhir 15 april menjelang maghrib,.. berdiri di depan pintu kamar menikmati secangkir kopi di kala senja, bersama hembusan nafas yang sesekali sesak. Simphony alam dan hamparan laut biru kota Ambon, gunung dan tanjungnya. Langit tetap biru walau sesekali putih awan menutupi, dan laut masih tetap biru bersama perahu nelayan dan kapal para saudagar. Tak jatuh memang Air Mata di atas keyboard laptop saat jari-jari menyelesaikan catatan ini, tapi bercaknya tetap membanjiri mega-mega yang mendung di cakrawala hatiku….bukanlah sebuah kebetulan bagiku dikarenakan bertepatan dengan hari kelahiran Nabiku Ahmad Ibni Abdillah untuk mereka yg bersunnah fi yaumil itsnain ,,

16 April,, 26 Tahun sudah, bernafas dengan nikmat umur yang Allah karuniakan bersama buah tangan yang membesarkan dan belaian lentik jari kasih sayang orang tua terbaik sepanjang masa..
Inilah sebuah kado muhasabah dariku untuk diriku, untuk dirimu duhai ayah ibu-ku dan untukmu yg bersempat diri membaca catatan senjaku...semoga rabithah  senantiasa menjaga kita dalam barisan penyayang dua pintu surga di jalan cintaNYA...

Jazakumullahu Khairul Jazaa..

Ya.. Rabb, Arhamhuma Kamaa Rabbayaani Shogiira…

Ambon, 16 April 2013

Tidak ada komentar: