(Aisyah RA Binti Abu Bak'r RA)
Kepada,
Kerabat, Sahabat dan Saudara/i ku..
Di
Tempat
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh….
Salam Cinta dan Ukhuwa.., Semoga Rahmat, Hidayah dan Kasih Sayang Allah selalu tercurah untukmu….
Ini adalah pertama kali diriku menulis catatan dalam bentuk surat untukmu.., untuk diri-dirimu jadikan muhasabah akan fitnah tanduk syaitan dan lidah dajjal yang datang dari dataran yang tinggi, negeri para peratap, negeri pengkultusan dengan revolusinya yang terbungkus konspirasi........
ini adalah sebuah catatan pelampiasan kekecawaanku terhadap salah satu dan beberapa facebookers (SYIAH) yang dengan terang terangan menjudge Ibu kami Ummhatul Mukminin (Aisyah Binti Abu Bakr R.A) dengan sebutan KAFIR dan sengaja mengganti gelar yang sudah disematkan Oleh Allah bagi Beliau Bunda Aisyah r.a dengan Gelar Ummul Mujrimun....Naudzubillah....kekesalan ini bertambah dengan membaca sebuah Note seorang cendikiawan Ulama SYIAH Imamiyah Indonesia seorang pandir Jalaluddin Rahmat yang secara terang-terangan menghina Ummahatul Mukminin..(para Ibu orang Mukmin).. dan di tulisan itu terlewati olehku satu statement JR dalam catatannya yakni : “Tidaklah menjadikan mereka (istri2 nabi) mulia karena menjadi istri Nabi, tetapi ukuran kemulian adalah taqwa” begitulah kata mereka (JR) untuk membangun persepsi masyarakat awwam dengan menggunakan dalil hanya untuk membungkus prasangka dan kedengkian sekedar menguatkan aqidah mereka yang sesat. Sungguh!!! orang2 yang membangun kebenaran sejati dengan rasio bebas, asumsi dan prasangka sebagai tiang-tiangnya adalah mereka yang di sebutkan dalam Al-Qur’an :
“…Mereka tidak mengikuti kecuali prasangka belaka, dan mereka hanyalah menduga-duga. (QS, 10 ; 66)
Dan
kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja.
Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai
kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.
(QS.10 ; 36)
bil khusus Aisyah radhiallahu anha salah satu istri nabi yang tak lepas dari cemohan, makian, hinaan dan pelampiasan prasangka mereka hanya untuk sekedar menguatkan aqidah mereka yang jauh dari kebenaran.
Saudaraku.. Mari sejenak mengenal Istri yang dicintai Nabi ini…
Man Hiya Aisyah ra ???
Kulitnya putih, berubah kemerahan saat diterpa sinar mentari. Maka kemudian wanita pemilik kulit putih ini pun dipanggil dengan al-Humairah. Ia adalah Aisyah binti Abu Bakar radiallahu anhu,
al-Humairah…., itulah wahai saudaraku..,Panggilan kesayangan untuk Aisyah yang tak lain keluar dari lisan Al-Amin, suami tercinta Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam. Sang suami dengan sabdanya “Keutamaan Aisyah atas wanita-wanita lain adalah seperti keutamaan tsarid (bubur daging dan roti) atas makanan yang lainnya” (HR. Muslim)
Dialah Aisyah pemilik sikap quwwah (keteguhan jiwa) yang keyakinannya tetap dalam kebenaran, ketika masyarakat mempertanyakan tentang kesuciannya setelah kepulangannya dari Perang Bani Musthaliq. Bahkan, berita bohong itu pun sempat menggoyahkan kepercayaan Rasulullah saw. kepadanya. Aisyah hanya bersaksi :
“Demi Allah, aku tidak bertaubat kepada Allah selamanya dari apa yang Rasul katakan. Demi Allah, sesungguhnya aku tahu jika aku mengakui sesuai dengan apa yang dikatakan orang-orang, sedang Allah tahu bahwa aku bersih dari (perbuatan itu), maka sungguh aku telah mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah terjadi. Dan, jika aku mengingkari apa yang mereka katakan, mereka pasti tidak akan mempercayai dan tidak akan membenarkanku. Tetapi, aku akan mengatakan apa yang pernah dikatakan oleh Ya’kub a.s., ‘Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku), dan Allah sajalah yang dimohon pertolongannya terhadap apa yang kalian ceritakan.’ (Q.S. Yusuf, 12: 18).” Dengan kesabaran yang tinggi pada diri Aisyah, Allah Swt. membenarkan kesucian Aisyah sebagai wanita mulia.
Allah telah menurunkan ayat Al-Qur’an yang berhubungan dengan pembebasan dirinya dari tuduhan dusta sebanyak sepuluh ayat dalam surat An-Nuur, dimana didalamnya Allah menjelaskan bahwa laki-laki yang baik adalah untuk wanita yang baik, dan beliau tergolong wanita yang baik, membebaskan mereka dari tuduhan orang-orang yang menyebarkan tuduhan dusta itu, dan memberi kabar gembira bahwa bagi mereka surga.
Istri yang dicintai Rasul, yang dipanggil dengan nama kesayangan dan mengabarkan kepadanya berita yang membuat jiwa serasa melayang ; “Wahai ‘Aisy.., Malaikat Jibril shallallahu ‘alaihi wasallam tadi menyampaikan salam buatmu.” (Muttafaq ‘alaih). Sungguh ujian Allah atas kesuciannmu wahai ibu kami tidak berhenti hingga saat ini. Masih saja ada golongan yang meragukan kredibilitas dan kemulianmu..
“Sesungguhnya
orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik, yang lengah lagi
beriman, mereka kena la'nat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab
yang besar. Pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi
saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan” (QS.24 ;
23-24)
“Engkau adalah isteri yang paling dicintai Rasulullah saw., dan beliau tidak akan mencintai sesuatu kecuali yang baik,” ujar Ibnu Abbas kepada Aisyah. Di waktu lain ia pun mengatakan, “Allah Swt telah menurunkan wahyu tentang kesucianmu dari atas lapis langit yang ketujuh, maka tidak ada satu masjid pun yang disebutkan nama Allah di dalamnya, kecuali kesucianmu akan dibacakan di dalamnya sepanjang malam dan siang.” Iman Az Zuhri berkata, “Seandainya ilmu Aisyah dikumpulkan dengan ilmu dari seluruh Ummahatul Mukminin, dan ilmu seluruh wanita, niscaya ilmu Aisyah lebih utama.”
Pada suatu ketika aku (Aisyah) ikut bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah lawatan. Pada waktu itu aku masih seorang gadis yang ramping. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan rombongan agar bergerak terlebih dahulu. Mereka pun berangkat mendahului kami. Kemudian beliau berkata kepadaku: “Kemarilah! sekarang kita berlomba lari.” Aku pun meladeninya dan akhirnya aku dapat mengungguli beliau. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam hanya diam saja atas keunggulanku tadi. Hingga pada kesempatan lain, ketika aku sudah agak gemuk, aku ikut bersama beliau dalam sebuah lawatan. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan rombongan agar bergerak terlebih dahulu. Kemudian beliau menantangku berlomba kembali. Dan akhirnya beliau dapat mengungguliku. Beliau tertawa seraya berkata: “Inilah penebus kekalahan yang lalu!” (HR. Ahmad)
Aduhai…, Sungguh romantika percintaan yang tiada tertandingi, tidakkah kalian menyaksikan dua insan yang terikat cinta berlari di gurun pasir dengan harmoni cinta, kasih sayang, dan rahmat itu !!!, permainan yang sangat lembut dan sebuah perhatian yang sangat besar dari seorang pemimpin yang besar pula. Adakah di dunia sekarang ini engkau lihat pemimpin2 negeri ini melakukan hal yang sama di tengah kunjungan2 mereka ??
Beliau perintahkan rombongan untuk berangkat terlebih dahulu agar beliau dapat menghibur hati sang istri dengan mengajaknya berlomba lari. Kemudian beliau memadukan permainan yang lalu dengan yang baru, kemudian berkata: “Inilah penebus kekalahan yang lalu!” (Subhanallah.. sungguh mulia dirimu wahai Nabi, suri teladan yang mencintai istri2nya..)
Selama sakit menjelang wafat, Nabi SAW kerap berada di rumah Aisyah. meminta izin istri lainnya untuk berada di dekat Aisyah.”Sebuah kenikmatan bagiku karena Rasulullah wafat di pangkuanku,” kata Aisyah. Saat detik2 perpisahan itu berakhir.., tetesan cinta menyayat sebelum sakaratul maut menjemput sang kekasih, Allah menyempatkan keduanya berbagi siwak.., haru membiru di bilik rumah tangga yang penuh rahmat itu, sehingga dikatakan oleh Aisyah “liurku bercampur dengan liur Rasulullah SAW”
Ahhhh.. saya begitu mengerti sekarang.., mengapa ending kisah sejarah yang begitu indah ini tidak begitu disukai oleh Kaum Syiah orientalis bahkan oleh mereka yang berwajah oriental…,??? Heheh.., apa mungkin iri, atau dengki atas kedudukan dan kemulian Aisyah Radhiallahu Anha ???. Yaa Allah…, Maha Suci Engkau yang menetapkan pada kekasihmu Muhammad hidup bersama wanita-wanita mulia nan agung.
Demikian suratku ini untukmu saudaraku bahwa Kehidupan setiap manusia bisa dikatakan sebagai kumpulan keping yang membentuk sebuah mozaik. Dan mozaik kehidupan Aisyah adalah termasuk mozaik terindah yang pernah ada. Kenapa? Karena mozaiknya beririsan dengan mozaik kehidupan manusia agung yang menjadi teladan manusia sepanjang masa yaitu Rasulullah saw.
semoga engkau mampu menepis fitnah, menghargai dirimu sendiri sebagai pribadi2 yang mendambakan jiwa mukmin…, lawan dan usirlah!!! fitnah itu dari orang2 yang engkau sayangi, karena sungguh kelezatan iman dan islam itu tidak akan pernah kita dapati di majelis2 yang juga di dalamnya berisi celaan, hinaan, cacian, bid’ah, makian, prasangka buruk dan kedengkian…
“Dan Kami berikan
kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata tentang urusan (agama);
maka mereka tidak berselisih melainkan sesudah datang kepada mereka
pengetahuan karena kedengkian yang ada di antara mereka.”.(QS. 45 ; 17)
Maha Benar Allah dengan segala FirmanNya…Aisyah meninggal pada bulan Ramadhan yang agung tepat pada tanggal 17 Ramadhan, pada usia 66 tahun. Dan, dimakamkan di Al-Baqi’ kawasan pemakaman yang terletak di kota Madinah. Hal ini sesuai dengan wasiatnya, dimana beliau berwasiat agar dimakamkan di tempat pemakaman istri-istri Rasulullah. Semoga Allah meridhainya.
Surgaku di telapak Kakimu Bunda....orang-orang yang durhaka kepadamu sama sekali tidak akan mencium aroma surga yang Allah janjikan.......!!
Salam untukmu ya Rasul, Keluargamu (istri2mu dan dzuriatmu) serta para sahabat yang selalu setia mendampingi perjuanganmu..
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..
Uar Ben Alhamd.....:)
Bersambung...
7 komentar:
postingnya bagus sobb..
jika aisyah ummul mukminin, lantas Fathimah az Zahra..?? putri kesayangan Rasulullah.. pencetak manusia2 suci.. pewaris Rasulullah.. itroh yang tidak akan putus, dan menjadi pengharum dunia..
Fatimah sudah mendapat gelar Ummu Abiha (ibu Bagi bapaknya) sewaktu Ummu Khadijah tercinta memenuhi pggilan Robb. saat itu Fatima msh berusiah 5 tahun dan dialah yg mnggantikan pssi ibunya bersamaan dgn istri-istri nan agung lainnya untuk melayani segala urusan dlm rumah tangga baginda Rasul,,saat dia dewasa dia di beri gelar Az-Zahra (Buah Surga) fatima pun mendapat gelar penghulu semua perempuan (sayyidatu nisâil ‘alamîn).
Aisyah Ummul mukminin berkata: “Aku tidak pernah melihat seorangpun yang paling menyerupai Rasulullah saw dalam sikapnya, berdiri dan duduknya kecuali Fatimah puteri Rasulullah saw. Selanjutnya Aisyah berkata: Jika Fatimah datang kepada Nabi saw, beliau berdiri menyambut kedatangannya, dan mempersilahkan duduk di tempat duduknya. Demikian juga jika Nabi saw datang kepadanya ia berdiri menyambut kedatangan beliau dan mempersilahkan duduk di tempat duduknya…” (Shahih At-Tirmidzi , dan Bukhari,) .. :)
terimakasih,,demi Allah aku tidak bermaksud untuk menyudutkan beliau (aisyah) ..cuma aku mau tanya ..ketika Rasulullah Saw mempunyai anak laki2 dari istri beliau yang bernama maria al qibtiyah ( maaf klo tulisannya salah) Rasululllah membawa putera nya itu ke Aisyah ..dan berkata :" miripnya puteraku Ibrahim ini dgn ku...
kemudian aisyah menjawab :' aku tidak melihat kemiripan dia dgn mu .
hal ini membuat Rasulullah sedih ..
Aisyah sering kali mencemburui Bunda Khadijah istri tercinta Rasulullah padahal beliau sudah meningal ... beliau sering mengatakan bunda khadijah perempuan tua yang ompong ..
apakah seperti itu ..orang yang baik ????
maaf ..aku mendapatkan kisah ini jauuuhhhhhh sebelom aku kenal dan menjadi pengikut ahlul bait nabi( syiah) ...hal ini sering menjadi buah pikiran bagi aku dulunya ...sedangkan kita mengangap beliau adalah ibunya kaum mukminin..
@Anonim : sungguh apa2 yang dinisbatkan tentang riwayat itu terkadang berlebihan..., apakah cemburu itu berdosa ??
Aisyah dikenal juga sebagai isteri Rasul yang pecemburu. Tetapi, kecemburuan Aisyah ini adalah rasa cemburu yang masih dibenarkan oleh syara’ dalam arti cemburu yang syar’i. Bukankah cemburu itu menandakan bahwa seorang isteri mencintai suaminya, dan ia pun merasa tidak mau rasa cintanya dikalahkan oleh para madunya yang lain? Selama kecemburuan itu sesuai dengan proporsinya dan tidak berlebih-lebihan, maka rasa cemburu ini bisa dipahami sebagai romantika kehidupan suami-isteri, dan Islam pun membenarkan cemburu yang seperti ini. Aisyah pernah cemburu pada Khadijah kendati ia telah tiada. Aisyah pernah cemburu pada Ummu Salamah yang diketahuinya berwajah cantik kendati ia sudah berusia lanjut. Sekalipun Aisyah adalah seorang isteri pecemburu, ia tidak pernah mengungkapkan kecemburuannya kepada ummul mukminin lain yang dicemburuinya itu, tetapi ia biasanya langsung menumpahkannya kepada Rasulullah saw. atau kadang sekali-kali kepada Hafshah binti Umar r.a. yang paling dekat di antara para isteri Rasulullah saw.
sikap beliau yang sinis kepada putera nabi yang bernama ibrahim.. itu gimana ? maaf secemburu-cemburunya seorang perempuan !!!
tidak pantas dia bersikap kasar kepada sorang anak kecil apalagi sianak tsb putera suaminya...dimana rasa keibuannya?
@Anonim & @fadlan : maaf, apakah dengan peristiwa itu kemudian kita pun harus memandang sinis kepada Aisyah ra ??? apakah dengan rasa cemburu yang menurut kalian berlebihan maka kita pun harus memandang cacat Aisyah sebagai ibu orang mukmin ??? apakah karena 1 x saja kecemburuan terhadap Maria membuat kemuliaannya cacat dan kita melupakan persaksian Allah terhadap beliau ??? Astagfirullah..., saya hanya akan memandang itu sebuah hal yang biasa dalam Rumah Tangga.., dan jika saja kalian mengetahui sejarahnya secara utuh.. maka kalian tidak akan memandang sinis peristiwa itu...
1 hal lagi semoga jadi perenungan buat kalian, dalam hadist Muslim ; Istri2 Nabi yang lain pun pernah mengutus Fatimah ra dan Zainab ra untuk meminta keadilan terhadap perlakuan Nabi yang lebih kepada Aisyah. apakah kecemburuan Istri2 Nabi yang lain itu juga akan membuat kita harus berkesimpulan bahwa mereka tidak memandang Nabi sebagai Suami yang Adil ?? sungguh ia adalah bagian kecintaan mereka saja terhadap Nabi... Allahu 'alimun bidzatissudur.... Allah lah yang mempersaksikan dengan kalamnya bahwa laki-laki yang baik (Muhammad) bersama dengan Wanita-wanita yang baik, Allah lah yang mempersaksikan kepada kita bahwa Istri2 Nabi adalah Ibu2 bagi kaum mukminin.
sekarang tanyalah pada diri kalian tentang kebenaran yang Mutlak ; ketika Allah mempersaksikan dengan begitu jelas dalam Al-Qur'an maka mengapa kita harus mengikuti pemikiran2 sinis yang datang dari cara berpikir manusia yang kebenarannya relatif ?? Allah jelas lebih benar dalam persaksiannya, kenapa kita harus meragukan dan mempertanyakan kredibilitasnya sebagai ummul mukminin ??... semoga bisa lebih bijak dalam memahami peristiwa2 yang terjadi di masa Nabi..!!!
Posting Komentar